"Kebenaran adalah berani, dan kebaikan tidak pernah takut." -William Shakespeare_Measure for measure-

Rabu, 23 Mei 2012

SETULUS HATI

Kamu tahu tidak artinya menyayangi setulus hati? 

Itu seperti tetap sayang meskipun dia pergi. 
Itu seperti tetap sayang meskipun dia menjauh. 
Itu seperti tetap sayang meskipun dia tidak lagi peduli. 
Itu seperti tetap sayang meskipun dia menginjak hati dan harga dirimu. 
Itu seperti tetap sayang meskipun dia membuangmu. 
Itu seperti tetap sayang meskipun dia menyerah tentang kamu. 
Itu seperti tetap sayang meskipun dia menghindarimu. 
Itu seperti tetap sayang meskipun dia menjadi liar. 
Itu seperti tetap sayang meskipun dia tidak lagi sayang padamu. 
Itu seperti tetap sayang meskipun dia mengaku hilang rasa padamu. 

Ah, tulus dan bodoh beda tipis.  


images from this link





Senin, 21 Mei 2012

Surat dari Langit #6

Suatu hari, seorang gadis duduk di padang rumput sambil memandangiku. Rambutnya berkibar-kibar. Ia memakai terusan kuning dengan motif bunga-bunga.

"Jangan sekarang nak. Petir sebentar lagi datang. Hujan harus turun hari ini. Awan sudah gelap. Dan aku harus menyiapkan serangkaian pelangi dan menarik matahari untuk bersinar sesudahnya. Aku sibuk. Bagaimana kalau besok?"
"Tidak apa-apa langit. Kerjakan saja apa yang harus kau kerjakan. Aku hanya ingin memandangimu."
"Tidak. Kau tidak hanya ingin memandangiku. Baiklah. Lima Menit. Katakan apa yang sangat ingin kau katakan."
"Umm... aku ingin menyerahkan ini padamu. Dah, langit!"

gadis itu meninggalkan kertas cokelat diatas rumput hijau itu. Lalu lari. Masih dengan rambut yang berkibar-kibar itu.

"Oh, kid. Ada-ada saja. Ditengah awan yang gelap ini."


Aku membukanya. Rupanya ini sebuah surat. Oh. Surat untukku. Baiklah. Petir harus menunda sebentar acaranya. Aku harus membaca surat cokelat itu.


Surat Untuk Langit.
Dear Langit,
Aku ingin menyampaikan rasa rindu untuk mata cokelat. Aku tidak melihatnya untuk waktu lama. Terakhir bertemu ketika rambutku masih lurus dan pendek. Katakan padanya, aku rindu. Tidak mampu menyampaikan langsung padanya. Ada tembok dan sekat-sekat berduri yang ia bangun di sekeliling benteng yang baru saja ia bangun. Jadi aku tidak dapat menembusnya. Katakan padanya, aku menunggu, diluar. Aku juga selalu mendoakannya. Mata cokelat sering memandang langit. Tentu kau tidak akan kesulitan menyampaikan ini, kan, langit?
Terima Kasih.

Gadismu.


Apa yang harus kulakukan dengan pesan ini? Pesan si gadis yang sedang tergila-gila dengan mata cokelat. Oh, baiklah, gadisku, kau menang. Aku akan menyampaikannya pada mata cokelat. Semoga mata cokelatmu menyadarinya dan menyambutmu kembali. 
Oh, gadisku, jangan menjadi bodoh terlalu lama.

Dengan perasaan tersentuh,
Langit  

images from this tumblr



Rabu, 02 Mei 2012

Kupu-kupu, Kepompong, dan Anak Kecil

"Suatu hari ada seorang anak yang sedang asyik mengamati sebuah kupu-kupu yang akan keluar dari kepompongnya. Ketika anak itu sedang mengamati kepompong tersebut, kupu-kupu itu terlihat kesulitan dan bersusah payah keluar dari kepompongnya. Anak itu merasa kasihan dan berniat membantu kupu-kupu itu keluar. Maka ia mengambil gunting dan memotong kepompong itu dengan maksud agar kupu-kupunya lebih mudah untuk keluar. Kemudian, kupu-kupu itu keluar, namun dia tidak dapat terbang dan akhirnya terkulai lalu mati." 

Saya mendapatkan ilustrasi ini dari seorang pendeta yang sedang berkotbah hari minggu kemarin. Cerita ini ternyata juga sudah diceritakan di banyak blog dan kaskus. Tapi saya cukup kaget dengan cerita ilustrasi ini. Selain saya belum pernah mendengar cerita ini sebelumnya, saya juga seperti dibuat mengerti oleh beberapa hal melalui cerita ini. 
Saya pernah berada di posisi anak kecil itu. Saya sibuk mencari cara untuk melindungi dan mengatasi masalah orang lain, lebih tepatnya, masalah orang-orang yang saya sayangi. Jika bisa, saya akan memperpendek prosesnya dan cepat-cepat "menyelamatkan" orang-orang yang saya sayangi dari berbagai masalah dan prosesnya yang menyakitkan.  Saya menawarkan diri. Meyakinkan orang lain bahwa bersama saya dia akan aman. 
Ouch! Inilah pahlawan kesiangan. Saya menyadari satu hal, saya bukan Tuhan, saya bukan pahlawan amerika yang pandai memanjat tembok atau menerjang badai untuk menyelamatkan orang lain. Cerita ilustrasi ini memberitahu saya satu hal, bahwa ada masanya dimana setiap orang harus menghadapi masalahnya sendiri. Setiap orang akan mendapati masa dimana ia harus berjuang sendiri untuk melewati proses demi proses dan bukannya memotong proses itu seolah-olah dengan waktu singkat, ia akan berjaya. 
Dari cerita itu saya mengerti bahwa jika mengikuti prosesnya, maka kupu-kupu itu akan menjadi indah dan dapat terbang tinggi. Jika kupu-kupu saja harus melewati proses, mengapa kita tidak?
Akhirnya saya menyadari, bahwa ada masa dimana saya harus "tega" melihat orang-orang yang saya sayangi bergulat dengan apapun yang menjadi masalahnya dan mencari cara untuk berusaha keluar. Tugas saya adalah menunggu, mendukung dan siap. Menunggu prosesnya berakhir, mendukungnya dengan cara lain selain memotong "kepompongnya", dan siap menyambutnya ketika berhasil keluar dari persoalan. 
Saya yakin banyak sekali yang menanggapi cerita ilustrasi itu dengan cara dan pandangan yang berbeda-beda. Bukan masalah. Saya berharap, apapun pandanganmu tentang ilustrasi itu, membuatmu mengerti tentang hal-hal baik yang nampaknya tersembunyi dan kembali bersemangat menghadapi apapun "kepompong" nya.
Dan ini untuk semua orang dengan keyakinan yang berbeda-beda. Selamat menikmati hidup. Selamat menikmati "kepompong"mu. Selamat menunggu dan bersiap-siap bagi kamu yang sedang menjadi anak kecil itu. Oh, jangan lupa, singkirkan gunting yang akan digunakan untuk memotong kepompong orang-orang yang kamu sayangi. 
*Tebar bunga mawar*

p.s: saya men-deactive-kan facebook saya. Mari berteman melalui twitter, tumblr, dan blog ini saja. *tebar kartu nama* 

this picture from this tumblr


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...