"Kebenaran adalah berani, dan kebaikan tidak pernah takut." -William Shakespeare_Measure for measure-

Kamis, 27 Oktober 2011

Like a stupid donkey.

Obat apa yang tepat untuk menyembuhkan resah karena jatuh pada kesalahan yang sama, berulang kali?
Obat apa yang tepat untuk menyembuhkan resah karena takut berubah menjadi keledai yang bodoh?



"Seperti keledai bodoh yang selalu jatuh pada lubang yang sama."

this picture from here

Selasa, 11 Oktober 2011

Perempuan yang ini dan Pidatonya.

Seorang perempuan memakai gaun sederhana dan aksesorisnya. Beberapa menit ia mengecek kembali make-up minimalisnya. Ia menyisir kembali rambutnya yg hanya diberi jepit hitam polos. Lalu ia siap. Ia menatap kedepan dan memulai pidatonya. Tanpa kertas contekan, tanpa orang lain yang membisikinya lewat earphone, hanya bermodal keyakinan, ia membuka pidatonya. "Perempuan yang ini..."
Jeda sejenak, ia menghela nafas. Kemudian ia meneruskan,
"Perempuan yang ini, diberi masalah yang begitu memberatkan baginya, karena seseorang yakin, bahwa perempuan ini pintar mengatasi masalah. Perempuan yang ini, seakan-akan tidak diberi jeda panjang untuk setiap masalahnya karena seseorang yakin bahwa perempuan ini cukup berotot dan berotak untuk menghadapi lebih dari satu masalah dalam waktu bersamaan. Perempuan yang ini diberi kekuatan ekstra karena seseorang yakin perempuan ini pantas mendapatkannya. Perempuan yang ini maju dengan berani karena hanya keyakinan yang ia punya. Jadi, perempuan yang ini pasti bisa mencapai garis finish dengan kemenangan. Perempuan yang ini pasti bisa menyentuh mimpinya dan membuatnya menjadi nyata. Perempuan yang ini tidak biasa. Perempuan yang ini tidak mau menjadi biasa saja. Sekian."
Ia menutup pidatonya. Lalu ia menatap kedepan, ingin melihat reaksi pendengarnya. Ah, berhasil. Ia yakin. Pendengarnya yakin. Kalau begitu sudah cukup berpidato. Ia hanya butuh tatapan meyakinkan itu. Lalu ia membersihkan cermin dihadapannya. Mengecek kembali make-up minimalisnya. Merapikan kembali rambutnya. Dan ia siap. Ia membuka pintu kamar dengan percaya diri, dengan kekuatan penuh, dan siap menghadapi dunia. 
Oh! Tunggu dulu! Ia meninggalkan sesuatu. Perempuan itu kembali ke tempat ia berdiri saat berpidato, di depan cermin. Ia menatap cermin itu selama dua detik, lalu tersenyum. Itu dia. Ia menatap senyumnya, mengambil senyumnya dari cermin, memakai senyuman itu untuk menghadapi dunia satu hari ini. Langkahnya ringan. Ia tahu langkahnya akan ringan hari ini. "Pidato yang memuaskan." Katanya dalam hati, lalu meneruskan langkahnya.

this image from here

Rabu, 05 Oktober 2011

- Edisi Curahan Hati-

Entah saya yang berlebihan atau mata sipit ini yang tidak bisa diajak bekerja sama, tapi akhir-akhir ini  si air mata membandel. Seperti anak kecil yang suka membantah, saya bilang untuk berhenti tapi si air mata tidak mau berhenti. Moment seperti ini yang membuat kepala berdenyut-denyut hebat. Berharap beberapa hari tertentu boleh dilompati seperti melompati anak tangga ketika sedang terburu-buru. Nyatanya sang waktu menolak bernegosiasi.
Saya mencoba menawarkan pilihan pada sang waktu. "Sir, bisa berhenti sebentar? Atau hilangkan satu hari ini. Kacaukan kalender. Hilangkan angka 5 ini agar saya tidak terlalu heboh meresapi hari ini. Jika anda bersedia, saya akan berusaha sehebat mungkin untuk berkompromi dengan mata dan hati agar tidak terlalu bersedih di kemudian hari. Saya tidak akan menyalahkan anda nanti ketika anda dirasa bergerak terlalu cepat." Tapi sang waktu berkata tidak. "Maaf, lady. Tidak bisa dan tidak boleh. saya tidak punya pilihan untuk berhenti. Saya harus tetap bergerak. Anda lah yang punya kendali dalam memilih. Anda bisa memilih tetap bersedih dan menyalahkan saya, atau sebaliknya. Tapi saya tetap bergerak."
Lalu sang waktu menepati janjinya. Angka ini tidak hilang di kalender. Hari ini tetap datang, membuat saya kewalahan menghadapi si air mata yang memberontak dan hati yang tidak bisa diajak berkompromi. Hanya mengandalkan otak agar tetap waras.
Akhirnya saya harus menghadapi hari ini. Angka ini. Bulan ini. Tahun ini. Terpaksa menyadari bahwa sudah satu tahun (atau BARU satu tahun?) berlalu tanpa ayah. Terpaksa menyadari bahwa sudah satu tahun ayah "mogok" bicara dengan saya. Terpaksa menyadari bahwa tahun lalu begitu berat dan kembali berat hari ini karena mengingat yang lalu. Terpaksa menyadari bahwa tahun ini tidak ada binar kebanggaan dari ayah untuk saya yang sedang berbinar karena boleh memenuhi cita-citanya.
Satu tahun yang lalu, tepat tanggal ini, saya merasa seperti mayat hidup. Ingin ikut tidur bersama ayah di peti yang mahal itu. Tidak mau bangun lagi, tidak mau bicara pada seorangpun, lagi. Mata bengkak, eyeliner tidak membantu mencerahkan mata yang sendu. Tentu saja saya masih hidup, sekarang. Saya hidup, tersenyum, tertawa, menikmati shopping, menikmati matahari, dan itu TIDAK MUDAH untuk satu tahun yang begitu berat. Pada akhirnya saya menyerah untuk hari ini. Tidak bisa berdebat lagi dengan waktu, dan Tuhan.  Mau tidak mau harus menikmati hari ini. Tidak bisa mengingkari hati dan menganggap hari ini biasa saja. Percayalah, sejak tidak bisa melihat ayah dan kakak, hari-hari tidak pernah menjadi biasa saja. Tapi saya harus hidup, dan bertahan. Bisa saja inilah poin penting yang diharapkan ayah. Mana saya tahu, saya tidak bisa menggali kubur, mengetuk petinya, dan meminta ayah bangun dan memaksanya mengatakan apa yang diharapkan dari saya. Karena itu hanya bisa mengira-ngira. Toh, kami adalah anak dan ayah. Punya ikatan meski terpisah jarak yang tidak bisa ditempuh dengan kendaraan apa saja. Mengandalkan potongan-potongan kenangan manis bersama beliau, maka semoga poin yang hanya berdasarkan perkiraan ini tepat.
Terimakasih Tuhan, saya masih punya otak. Paling tidak di sela-sela sesenggukan, saya memikirkan mata warisan yang sudah sipit ini. Sayang sekali jika harus semakin sipit karena air mata yang membandel. Kamu, air mata, akan berhenti karena saya tidak akan membiarkan mata ini hilang. Tapi, saat ini, kamu, air mata, boleh menari dan berdansa dengan hati yang remuk. Dan setelahnya, biarkan otak yang mengambil alih!

"Keadaan boleh jahat karena tidak mengijinkan aku bertemu denganmu saat ini. Kesadaran boleh mengetuk hatiku untuk mengingatkan bahwa kau tidak sempurna. Tapi aku akan tetap merindukanmu, akan tetap bangga menyandang namamu. Jadi, berbahagialah disana. Berbanggalah dari sana. Nikmati tulisan ini sambil mendengar lagu ini. Jangan protes, papa. Aku tidak bisa menyanyi. Kau harus cukup puas dengan suara orang lain saat ini. Nanti kalau kita sudah bertemu, berkumpul, aku akan menyanyikan lagu ini di samping telingamu. Aku mencintaimu. Peluk hangat perutmu yang buncit dariku. (Kau dan aku belum selesai, papa. Kau masih mendominasi hatiku.)"

video
 this video from youtube



October, 5, 2011.
(Exactly a year) he is having fun in heaven.
Dedicated for him, with thousands loves.
His Daughter on the earth.
*written with tears and smile at the same time.





Sabtu, 01 Oktober 2011

October, Welcome.

Si hati sungguh berharap oktober tidak becek.
Bau tanah basah memang unik, menenangkan. Tapi bau gaun-gaun malam yang tidak terjemur sempurna karena tidak kebagian matahari adalah menjijikkan. Memusnahkan hasrat.
Hembusan angin dingin memang menyegarkan, menghanyutkan. Tapi jika hanya membuat tertidur dan tidak bertanggung jawab pada kewajiban, alangkah lebih baik jika si matahari hangat yang bermain lebih.
Nada rintik hujan yang menusuk bumi memang memanjakan telinga. Ah, hatipun ikut manja, lembek, merajuk, meratap, dan berakhir dengan berlebihan. Sungguh, cerah lebih baik.
Ini oktober. Kata musim dan iklim, ini waktunya bumi tropis berteman dengan basah.
Boleh menawar?
Oktober, jangan becek. Berikan matahari porsi lebih, seperempat saja. Agar oktober tidak kelam. Agar hasrat tidak padam. Agar hati tidak merajuk. Agar sepatu tidak kotor.
 
image from here
 
 
 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...