Mereka ada di dekatmu. Seringnya menyakiti hatimu yang hanya satu. Jangan pusing dengan urusan "disengaja" atau "tidak disengaja" karena pada akhirnya hati tetap luka. Di suatu waktu manusia-manusia ini menangis tersedu-sedu, merasa hatinya disakiti, olehmu. Lalu mulut-mulut kecil berkoar bahwa kamu tidak pernah mengerti. "Kamu tidak pernah berada diposisiku!" Teriak mereka dengan lantang. Jari kirinya menuding moralmu. Tangan kanannya menarik jubah hakim. Kamu dihakimi. Kamulah orang paling kriminal dimuka bumi. Satu-satunya makhluk yang tidak punya hati karena tidak pernah bisa mengerti tentang "posisi". Kamu harus mengerti. Kamu harus paham. Peduli setan, hatimu sakit dan tertusuk karena tudingan. Kamu orang bersalah. Titik.
Anggap saja benar. Mengaku saja pernah melakukannya. Lalu minta pengampunan pada siapa? Siapa yang mengerti hati yang satu ini? Mulut ditempel plester tanda dilarang bersuara. Sekali salah tetap salah. Sekali tidak mengerti tetap tidak mengerti. Jangan membela diri. Ingat? Moralmu sedang dituding. "Berontaklah! Buka plesternya dan bersuaralah." kata suara didalam hati. "Jangan. simpan saja tenagamu." Kata suara yang lain. Ah, ya. Sia-sia. Inilah saatnya pepatah "diam adalah emas" beraksi.
Betul. Sebaiknya kamu diam. Tahan semua dengan lutut yang bergetar itu. Bersyukurlah. Lututmu masih bergetar, belum patah. Lalu, jika patah? Masih ada pundak. Masih ada punggung. Tanggung saja sebentar. Nanti katanya akan ada yang menolongmu. Seperti di sinetron-sinetron itu, tokoh protagonisnya selalu tersungkur. Tapi selalu ada yang mengulurkan tangan untuknya. Begitupun kamu. Pasti akan ada yang mengulurkan tangan untukmu. Kamu yang hatinya cuma satu dan disakiti. Kamu yang harus mengerti. Kamu yang terhakimi. Kamu yang tertuding. Kamu yang moralnya dipertanyakan. Kamu yang mulutnya di plester tanda dilarang bersuara. Kamu yang lututnya bergetar. Bahkan kamu yang sudah tersungkur. Harapanmu adalah bahwa akan selalu ada yang mengulurkan tangannya untukmu. Meski hanya satu orang. Atau setengah orang?
Berharap sajalah. Toh, kamu belum mati.
![]() |
| image from here |









