"Kebenaran adalah berani, dan kebaikan tidak pernah takut." -William Shakespeare_Measure for measure-

Senin, 03 Januari 2011

SAHABAT

Coba tolong aku...
Tolong aku menerjemahkan arti sahabat.

Ya, ya, aku sudah membaca ribuan quotes tentang sahabat.
Aku pun memiliki sahabat.
Hanya saja, aku sedang tidak mengerti arti sahabat.
Seluruh penjabarannya sudah sangat jelas. Tapi tetap saja aku tidak mengerti...


Ketika aku berjalan dengan sahabat,
aku tidak pernah mencoba untuk merangkaikan arti dirinya untukku.
Karena bagiku, sahabat lebih dari serangkaian kata. 
Tidak dapat dijelaskan. Ya. Aku tidak mampu menjelaskannya.

Lalu ketika berbagai bentuk quotes tentang sahabat bermunculan,
aku mulai mencocokkannya, dan semuanya benar.

Lalu aku melihat orang-orang yang mengikrarkan dirinya dengan yang lain sebagai sahabat.
Mudah. Kamu dan aku saling berbagi cerita, saling tertawa, pergi bersama, menghabiskan waktu bersama-sama, lalu kita adalah sahabat. 

Well, well, well, kalau begitu prosesnya, siapa bilang mencari sahabat itu sulit?

Baiklah, untuk sementara, Mari kita sepakat dengan itu.

Lalu aku melihat scene dimana mereka yang mengikrarkan dirinya sebagai sahabat bersikap aneh dan akhirnya memutuskan persahabatan.

Semacam pernyataan: “kamu tidak lagi menjadi sahabatku”. 

STOP ASKING “WHY”

Tahu tidak bagaimana rasanya menangis?
Menangis tersedu-sedu seperti anak kecil kehilangan benda kesayangannya?
Menangis tersedu-sedu seperti anak kecil yang tidak dituruti keinginannya?

Rasanya menyedihkan.
Sekaligus melegakan.

Tentu saja bukan penampilan yang spektakuler dan eksotis ketika mendapati dirimu menangis meraung-raung.
Kau mendapati matamu memerah. Kelopakmu membengkak. Hidungmu juga memerah seperti rudolf si rusa. Kulit wajahmu berminyak dan kusam. Dan kau akan lelah membuka mata karena bengkak yang ditimbulkan.
Seperti monster.....

Tapi melegakan.
Ya, melegakan dan menenangkan. 

Aku mendapatinya di akhir pekan di tahun 2010.
Pagi itu aku bangun dan mendapati kalau hari itu ulang tahun ayahku.
Aku segera bangun dan bersiap untuk mengucapkan selamat.
Apa kata yang tepat?

“selamat ulang tahun papa!”

Ah ya, ini lebih tepat dan indah. “selamat ulang tahun papa! Aku mencintaimu!”

Lalu, Ayahku tidak disana.

Ah ya bodohnya aku. Melupakan satu hal penting.

Well, beliau pergi ke suatu tempat. Orang-orang meyakinkanku bahwa tempat itu adalah tempat yang tepat dan indah. Tidak dapat digambarkan dengan segudang kata-kata yang paling brilian sekalipun.

Tentu saja aku senang. Bahkan hatiku sendiri meyakinkanku bahwa tempat yang dituju oleh beliau adalah tempat yang lebih baik dibanding bumi yang sedang kupijak ini. 

Tapi aku menangis pagi itu.
Bukan dengan bijak.
Tapi membabi buta. Meraung seperti idiot. Berteriak seperti orang bodoh.

Minggu, 02 Januari 2011

"CINTA BERTEPUK SEBELAH TANGAN"

“aku sedih. Aku menyukaimu dan menyayangimu begitu dalam. Kenapa kau tidak melakukan hal yang sama? Kenapa hanya diam? Kenapa tidak membalas? Kau menyakitiku.....” 

Ah betul. Skenario cinta. Perasaan tidak berbalas. Menyakitkan. 

Apa istilah yang tepat untuk semua ini? ‘cinta bertepuk sebelah tangan’. Mereka yang gila dengan istilah cinta menyebutnya seperti itu.

Menyakitkan karena ternyata timpang. Tidak seimbang. Tidak saling menyukai, menyayangi, mencintai, atau istilah lain yang sama. Hanya sebelah. Ah ya, tentu saja menyakitkan. Seperti ditikam bukan? 

Tapi siapa manusia hingga boleh memaksakan perasaan? 

Tidak suka tidak berarti menyakiti bukan? 

tidak membalas suka tidak berarti menikam jantungmu bukan? 

Diam tidak berarti menyobek hidupmu bukan? 

Ah ya betul...melankolis. 

Seolah-olah hidupmu berakhir karena kegiatan percintaanmu tidak berbalas. dan menyerukan pada dunia bahwa kamu tersakiti olehnya. 

Atau, menceritakan pada dunia segala perjalanan percintaan yang bahkan dirimu sendiri belum tahu kejelasannya? 

Mengikrarkan bahwa dirimu kuat dan mandiri. Tapi mengolok diri sendiri dengan segudang teriakan patah hati yang membuatmu merasa bahwa kau orang yang paling harus dikasihani. 

Ah. Betul. Kasihan. 

Apalagi sebutan yang pantas untuk orang seperti ini? 

TERPOJOK.

Tahu tidak bagaimana rasanya terpojok?
Semacam disudutkan...
Seperti adegan-adegan di film-film hollywood..
Si aktor dipojokkan disudut gang oleh segerombolan penjahat, Kemudian dipukuli dan ditendang, kalau keberuntungannya sedang terbang ke tempat lain, akan mungkin pada akhirnya si aktor ditembak atau ditusuk,....dan, mati.

Kalau kejadiannya seperti itu bukankah lebih baik?
Hanya fisik yang terluka. Atau, sekalian seluruhnya mati dan tentu saja tidak akan merasakan apapun lagi.

Tidak, tidak. Dia tidak dipojokkan oleh segerombolan penjahat.
Tidak, bukan manusia.
Dia hanya dipojokkan oleh keadaan.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...