"Kebenaran adalah berani, dan kebaikan tidak pernah takut." -William Shakespeare_Measure for measure-

Minggu, 05 Juni 2011

"it's not your business"

Jika tidak tahu permasalahannya, maka jangan bergunjing.

Jika hanya mendengar dari satu pihak, maka jangan menghakimi.

Jika namamu tidak pernah dilibatkan, maka jangan ikut campur. 

Jika kau manusia bermoral, maka berhenti mengendus masalah orang lain.

Jika kau cukup perhatian pada hidupmu, maka urus saja masalahmu sendiri. 

Jika kau punya otak untuk berpikir, maka pikir saja masa depanmu, alih-alih memikirkan gosip berikutnya.

Jika kau cukup dewasa, maka simpan saja semua informasi yang tidak berkaitan denganmu, dalam hatimu.

Jika kau berjiwa besar, maka sebaiknya kau menutup mulut besarmu mulai sekarang. 

Jika kau tidak bodoh, maka kau pasti mengerti.

Jika kau bukan semua yang dipaparkan, maka abaikan saja tulisan ini. 

Ditulis dengan hangat. 
Teruntuk,
Kau yang suka bergunjing, bergosip, menghakimi, dan ikut campur urusan orang lain. 



Sabtu, 04 Juni 2011

Me. On. Me.

Favorites. 
Photographs. Sunshine. Historical romance novels. Pillows. Strawberry. Smart phone. Automatic motorcyle. Sun glasses. Beach. Moneys. English grammar' book. Stiletto. Flat shoes. Etnic bag. Black. White. Blue. Dark Brown. Summerdress. Wedding gown. Golden retriever. Jazz. FOODS. 

Priorities
Mother. Him. Best friend. Friends. Father. Sister. Me.

The Most Priority.
GOD.

Dislike.
Rain. Communication' theories. Wedges. Green. Metal. Mathematics. Hitler.

On dream.
London. Bora-bora. Hawaii. Great career. Billionaire. Peace. Culinary presenter. Beach-style wedding. 


On progress.
Make dreams' list come true. 

images from here
 

Jumat, 03 Juni 2011

WAR and PEACE for THE RIGHT TIME.

"Aku cinta damai. Tapi aku tidak akan ragu mengambil tombak, jika memang itu dibutuhkan. Dalam dan untuk setiap aspek hidupku." (-Fe'S-) 

Saya cinta damai.
Saya ingin damai.
Saya mendambakan kedamaian.
Dalam dan untuk setiap aspek kehidupan saya.

Tapi saya tidak akan ragu untuk berperang, jika memang itu diperlukan.
Saya tidak akan ragu mengambil tombak, jika memang itu dibutuhkan.
Saya tidak akan ragu merancang strategi dan melawan, jika memang itu diharuskan.
Dalam dan untuk setiap aspek kehidupan saya.

Jika pertanyaannya adalah, kapan waktunya untuk berdamai atau berperang? 

Kapan saja jika itu tepat dan sesuai.
Untuk itulah seharusnya manusia menggunakan apa yang disebut "bijak".
Untuk tahu dan peka pada waktu yang tepat dan sesuai. :)



images from here


Senin, 30 Mei 2011

knock me first, before you played, hei problems!

Hei people, please tell me if one day the problems has a hand, because I wanna shout at them to knock on my heart's door first before they entering into my life and starts to play their parts. 




"The problems was closed. But for some situations, it opened without permission. Yes, because it has no hands to knock in your heart's door to get permission." (-Fe'S-) 

images from here

Kamis, 26 Mei 2011

MIRACLE




"Because miracles has its time, then it can't be so instant." (-Fe'S-)

 

Rabu, 25 Mei 2011

Everything is on the right time.

1. Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun dibawah langit ada waktunya.
    (For everything there is a season, and a time for every matter under heaven.)

2. Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam.
    (A time to be born, and a time to die, a time to plant, and a time to pluck up what is planted.)

3. Ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan, ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun.
    (A time to kill, and a time to heal, a time to break down, and a time to build up.)

4. Ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa, ada waktu untuk meratap, ada waktu untuk menari.
     (A time to weep, and a time to laugh, a time to mourn, and a time to dance.)

5. Ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu, ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk. 
     (A time to throw away stones, and a time to gather stones together, a time to embrace, and a time to refrain from embracing.)

6. ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi, ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang.
    (A time to seek, and a time to lose, a time to keep, and a time to throw away.)

7. ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit, ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara.
    (A time to tear, and a time to sew, a time to keep silence, and a time to speak.)

8. ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci, ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai.
    (A time to love, and a time to hate, a time for war, and a time for peace.)

 From: ECCLESIASTES 3 : 1 - 8. 

Then, everything is on the right time. isn't it?

:)

Senin, 23 Mei 2011

it's just a part of life.

Mereka menyebut dirinya "si anak malang",
Mereka menatap dirinya dengan tatapan "kasihan kamu nak",
Mereka melirik sambil berbisik "itu dia si anak dengan nasib buruknya."

Lalu ia menatap, tersenyum, dan berkata pada mereka:

"Bukan malang,bukan nasib buruk. Hanya bagian hidup yang harus dilalui."
"Bukan kasihan,tapi terimakasih. Karena ketika Tuhan menarik kembali apa yang diciptakan olehNya, yang telah diletakkanNya begitu dekat dengan seseorang, Ia menggantinya dengan karyaNya yang lain, sehingga seseorang tidak perlu merasa begitu sendirian. Itu pasti dan sudah cukup."


"Tapi, hei, terimakasih untuk tatapan, lirikan, dan proses mengasihani itu. Toh, proses mengasihani dan dikasihani  juga bagian dari hidup yang harus dilalui."

:)

Rabu, 18 Mei 2011

......

"Tuhan ada, bukan untuk dipertanyakan dan diperebutkan."
"Tuhan ada, untuk dipercayai dan dicintai."

Selesai perkara.

Mengapa memusingkan hal-hal yang tidak perlu dipusingkan.

Lebih baik mulai mengoleskan selai stroberi pada roti tawar bertabur wijen itu, agar rotinya tidak lagi tawar namun berwarna dan berasa. Hidup pasti lebih mudah dan lebih indah.

Tidak percaya?
Coba saja.

:)

"Tuhan ada, bukan untuk dipertanyakan dan diperebutkan."
"Tuhan ada, untuk dipercayai dan dicintai."


(-Fe'S-)



Selasa, 17 Mei 2011

AKTING.

Kemeja bermerk.
Arloji emas.
Jas bergengsi.
Sepatu termahal.
Perut buncit.
Mobil anti peluru, dengan stiker "saya penegak keadilan".

Bicara atas nama keadilan.
Membela yang benar.
Menjanjikan keamanan.
Menawarkan kesejahteraan.
Tersenyum hangat.
"Lihat, ada kamera dimana-mana. Banyak mata penting sedang memandang. Apa salahnya satu-dua menit berakting gagah dan menjanjikan hal baik."

Aih, manusia buncit bergelar tinggi,
Aih, manusia berkonde tinggi setinggi jabatanmu,
Terimakasih untuk aktingnya.
Orang "terhormat" dan necis sepertimu,
membuatku semakin berharap hanya pada Tuhan.
Membuat si atheis menjadi kembali percaya pada Tuhan karena tidak ada lagi yang bisa dipercaya.
Membuat si "pejalan kaki tanpa harapan" menjadi berharap kembali pada Tuhan karena dengan bodohnya meletakkan harapan padamu yang hanya berakting.

Bagaimana kalau kau mendirikan sekolah akting berakreditasi A+ ?
Ah, jangan pusing mencari pengajar berpotensi. Kau, si manusia necis berlabel "saya penegak keadilan", sangat mampu melakukannya.

Ah, jangan merendah. Lihat? karena aktingmu maka banyak yang menggantungkan harapan padamu. Yah, meskipun pada akhirnya kami terseok-seok saat tahu itu hanya akting.

Karena ini hanya tentang akting, bukan?
:) 


Selasa, 10 Mei 2011

Chapters and Coffee.

Chapter 1.
Mereka sedang berdebat.
Oops! bukan! Mereka sedang Berlomba. Lomba berteriak. Si pemenang akan memiliki surga.
Karena itu mereka berusaha sekuat mungkin menarik urat leher.
Hei, surga didepan mata. Ayo, ayo berteriak atas nama Tuhan!

Chapter 2.
Di sudut sana, sekelompok yang lain, merasa tersenggol dan tersinggung.
Merasa cukup pantas untuk memutuskan bahwa lomba itu adalah penghinaan.
Mereka bersiap mengambil seperangkat alat suci dan memanfaatkan teknologi yang sedang berpesta dengan kecanggihannya. Oh, tidak lupa dengan bambu runcing. Senjata khas sebuah negara.
Mereka mengenakan perisai dengan ukiran "kami siap membela Tuhan".

Chapter 3. 
Para peserta lomba merasa teraniaya. Merasa terhina.
Uh. Sepertinya ini ujian dalam lomba. Harus berteriak lebih kencang!
Nah, betul saja. Teriakan semakin kencang dan menggetarkan, dengan tambahan kalimat "kami siap membela Tuhan".

Chapter 4. 
Masing-masing kubu mulai mengumpulkan pasukan.

Chapter 5. 
Kembali pada chapter 1.

Chapter bonus. 
Disudut sini, seseorang sedang mengaduk kopi dalam cangkir kesayangannya. Menyesap kopinya dengan nikmat sambil membaca dan "menonton" chapter demi chapter. Akhirnya, Ia menutup chapter, meletakkan cangkir kopi, dan melanjutkan aktivitasnya sambil bergumam "Tuhan tidak perlu dibela. Ia besar, Ia solid, dan Ia sangat sanggup membela diriNya sendiri. "


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...