Hari ini seseorang memikirkan berbagai kesalahan yang sudah ia buat untuk satu hari ini,..
Selalu begini setiap malam,…
Beberapa hari kemudian, ia memutuskan untuk mencatat semua kesalahan yang telah ia lakukan pada hari itu,..
Kemudian ia mulai berpikir untuk mencatat semua kesalahan yang telah ia lakukan selama masa hidupnya,..
“aku ingin tahu, seberapa bejatnya aku, kesalahan apa saja yang sudah aku lakukan selama ini, sejak aku menyadari arti dunia ini…kupikir aku tidak banyak melakukan kesalahan…yah, hidupku kan lurus-lurus saja….ini tidak sulit…”
Lalu ia mulai menulis,..mulai mendaftar…
Satu jam berlalu, habislah 5 lembar ukuran A4, penuh dengan tulisan daftar kesalahannya.,
Ia belum menyerah meskipun tangannya sudah lelah menulis dan otaknya sudak lelah untuk mengingat-ingat kesalahan-kesalahannya…
Beberapa jam yang tidak terhitung terlewati, dan ia menyerah…
Ia menyadari banyak kertas bertebaran dan tentu saja isinya adalah semua daftar kesalahannya…
“ini tidak mungkin…sepertinya aku lurus-lurus saja…..ini yang kuingat…bagaimana dengan yang tidak kuingat??berapa banyak lagi??”
Ia panik…
“bagaimana ini??tidak mungkin….bagaimana aku bertanggungjawab dengan kesalahan-kesalahan ini??”
Lalu seseorang mengambil kertas demi kertas itu..Ia kumpulkan, lalu Ia hapus, dan Ia membakar semua kertas itu hingga sisa abu….
Betapa kagetnya orang itu…”hei..apa yang Kau lakukan??mengapa membakar semua kertas-kertasku??
“Aku tidak ingin ada daftar ini, Aku ingin menghapusnya, dan tenang saja, Aku punya kuasa untuk itu,..Aku pikir kau masih punya kesempatan untuk memperbaikinya,..coba lihat Aku, lihat Aku dan Aku sungguh berharap kau dapat melakukan yang lebih baik daripada semua ini…”
Dan Ia pergi….
“Bagaimana ini, terlalu banyak kesalahan-kesalahanku,,. Rasanya tidak mungkin aku melihat wajahMu lagi…..tidak pantas…itu kata-kata yang sangat cocok untuk menggambarkan perasaanku saat ini..”
“pantas saja kesialan selalu menimpaku,..pantas saja hari-hari ini selalu berjalan tidak sesuai dengan yang aku inginkan, pantas saja aku selalu dilanda kesedihan dan ditimpa musibah-musibah, semua karena kesalahan-kesalahan yang aku lakukan yang tidak mampu aku ingat…….”
……………………………………….
Lalu suatu saat, ia mencoba mendaftar kebaikan apa saja yang pernah ia dapatkan…
“aku penasaran, berapa kebaikan yang aku dapatkan selama ini, karena rasanya aku selalu ditimpa sial….”
Lalu ia mulai menulis,..mulai mendaftar…
Satu jam berlalu, habislah 5 lembar ukuran A4, penuh dengan tulisan daftar kebaikan yang ia rasakan.,
Ia belum menyerah meskipun tangannya sudah lelah menulis dan otaknya sudak lelah untuk mengingat-ingat semua kebaikan yang pernah ia dapat dan rasa…
Beberapa jam yang tidak terhitung terlewati, dan ia menyerah…
Ia menyadari banyak kertas bertebaran dan tentu saja isinya adalah semua daftar kebaikan yang pernah ia rasakan…
“ini tidak mungkin…sepertinya kesalahanku banyak dan tak terhitung …..ini yang kuingat…bagaimana dengan yang tidak kuingat??berapa banyak lagi??”
…………………………………………
saya berpikir dan mencoba mendaftar semua kesalahan-kesalahan yang saya lakukan, ternyata beratus-ratus bahkan beribu-ribu lembar sepertinya tidak cukup menampung semua kesalahan selama saya hidup..tapi aneh...TUHAN slalu saja menghapus semua itu selama batas waktu ini, dan menyuruh saya mengganti daftar kesalahan itu menjadi daftar kebaikan apa saja yg pernah terjadi dalam hidup saya, dan sungguh hasilnya terlalu banyak kebaikan hidup dariNYA yg tdk bisa saya daftarkan,..
-deimoete-
"Kebenaran adalah berani, dan kebaikan tidak pernah takut." -William Shakespeare_Measure for measure-
Rabu, 24 Maret 2010
DAFTAR KESALAHAN DAN KEBAIKAN SAYA…..
Sabtu, 13 Maret 2010
CERITA INI….
“hahahahaha….”
Dia tertawa, tertawa bersama-sama teman-temannya,
Sesekali ia terbahak-bahak bersama gerombolannya,
Ia melucu di depan para sahabatnya, keluarganya, dan kekasihnya.
Tapi siapa sangka ia menangis tersedu-sedu setiap malam,
Mungkin saja ia dianggap orang gila jika ada yang mendengarnya,
Atau mungkin ia memang sudah gila?
Inilah kisahnya, yang kelak akan menambah koleksi kisah-kisahnya yang lain, semoga…..
Ia terbangun pagi itu dan mengumpulkan semangatnya untuk melakukan segudang aktivitasnya. Pagi itu berubah menjadi siang yang terik. Lalu panas disiang itu akhirnya sedikit meredup. Ia pulang ke tempat istirahatnya. Beberapa menit kemudian, ia mengangkat teleponnya. Lalu dunia serasa berputar terbalik. Ia mendapati dirinya Blank seketika. Lalu ia menangis sejadi-jadinya. Itulah kali pertama ia kehilangan kendali didepan banyak orang.
Sejak saat itu, ia merasa dirinya terbang entah kemana. “everything was changed!” pikirnya. Ia bukan lagi orang yang dulu. Dunia serasa berhenti dan ia jatuh. Jatuh dan tidak akan bisa berdiri lagi karena luka yang menganga di kedua lututnya terlalu besar. Tapi ternyata ia masih bisa berdiri. Ia berdiri tegap. Tegap di hadapan banyak orang. Ia harus menjadi kekuatan, setidaknya untuk orang-orang terdekatnya yang masih tersisa. Lalu ia memutuskan berdiri tegap dan tidak akan tersungkur lagi.
Ia kembali menata semua yang telah hancur. Menata dengan tertatih-tatih, dengan luka menganga yang besar itu. Ia kembali membuat rencana baru, karena rencana-rencana lamanya telah terkoyak habis. Ia kembali menata emosinya dengan sisa-sisa kekuatannya. Lalu ia tertata.
Benarkah tertata? Dengan rapi? Sepertinya tidak. Ia tersungkur untuk kesekian kalinya setiap ia sedang sendiri. Iya. Ia bisa dengan leluasa tersenyum bahkan tertawa terbahak-bahak bersama dengan orang-orang kesayangannya. Ia bisa melucu dihadapan orang-orang yang ia kenal. Tapi, toh nyatanya setiap malam ia menangis sejadi-jadinya dihadapan tembok, dan TUHAN. Kekuatan itu hilang seketika. Segala yang tertata rasanya selalu roboh setiap malam, dan ia harus mengerahkan tenaganya di keesokan harinya untuk menata kembali semua yang telah roboh dan hancur malam sebelumnya, selalu seperti itu.
Ia bosan. “ rasanya aku ingin tidur saja, lelah. Ingin tidur dan tolong jangan bangunkan aku TUHAN, jangan bangunkan aku, karena aku tidak ingin bangun.” Tapi ia tetap terbangun.
“mungkin aku harus berkonsentrasi menyembuhkan lukaku, bukan menghabiskan waktu menata semua ini, karena nantinya akan kurobohkan lagi, aku harus meyembuhkan luka ini, supaya aku menjadi lebih kuat, dan aku bisa menata lebih baik, sehingga tidak mudah roboh dan hancur”
Kalau saja itu mudah, maka dengan sekejap mata semua akan menjadi baik. Tapi itu tidak mudah. Sangat tidak mudah. Dengan matanya ia melihat keredupan orang-orang terdekatnya yang masih tersisa. Dengan matanya, ia melihat gairah hidup yang mulai tercuil sedikit demi sedikit. Dengan matanya, ia melihat topeng ketika sedang bercermin. Mungkin lukanya bukan mongering, tapi semakin bernanah.
Dulu ia berjanji bahwa tidak ada lagi complain apapun. Tapi ia mengingkari janjinya. Ia mengingkarinya. Karena ia tidak sanggup menahan sakit lukanya. Ia menyalahkan penyebab luka ini. “siapa yang membuatku terjatuh seperti ini???siapa??” ia menuntut. Tapi itu tidak membuatnya menjadi lebih baik. Ia semakin tersungkur, dan…sakit.
“jangan bodoh, bangun saja dan berlarilah” kata orang-orang disekelilingnya. Karena itu ia harus kuat. Setidaknya berperan kuat. Ia tidak boleh lagi menunjukkan luka dan kelemahannya. Tidak di depan orang-orang kesayangannya. Cukup di depan tembok-tembok itu, dan didepan TUHAN.
“aku bisa terbahak-bahak dan menahan sakit dan ketidaksanggupanku dihadapan mereka, tapi tidak dihadapanMu TUHAN, aku tidak bisa bersembunyi dihadapanMu. Tidak bisa. Kalau aku harus menangis seperti orang gila di depanMu, maka izinkanlah. Karena aku tidak punya kekuatan lagi untuk terbahak-bahak, menahan sakit dan ketidaksanggupanku di hadapanMU, tidak. Tolong, izinkanlah, sudah cukup topeng ini untuk mereka, tapi tidak untukMu,..”
Luka itu? Mungkin belum sembuh benar, semoga luka itu lekas sembuh, supaya ia mendapat kekuatannya kembali untuk melepas topengnya, dan menata semua yang telah hancur. Memperlihatkan tawa yang sesungguhya pada dunia. Tawa kemenangan, pada dunia….
“hahahahaha….”
Dia tertawa, tertawa bersama-sama teman-temannya,
Sesekali ia terbahak-bahak bersama gerombolannya,
Ia melucu di depan para sahabatnya, keluarganya, dan kekasihnya.
Tapi siapa sangka ia menangis tersedu-sedu setiap malam,
Mungkin saja ia dianggap orang gila jika ada yang mendengarnya,
Atau mungkin ia memang sudah gila?
Dia tertawa, tertawa bersama-sama teman-temannya,
Sesekali ia terbahak-bahak bersama gerombolannya,
Ia melucu di depan para sahabatnya, keluarganya, dan kekasihnya.
Tapi siapa sangka ia menangis tersedu-sedu setiap malam,
Mungkin saja ia dianggap orang gila jika ada yang mendengarnya,
Atau mungkin ia memang sudah gila?
Inilah kisahnya, yang kelak akan menambah koleksi kisah-kisahnya yang lain, semoga…..
Ia terbangun pagi itu dan mengumpulkan semangatnya untuk melakukan segudang aktivitasnya. Pagi itu berubah menjadi siang yang terik. Lalu panas disiang itu akhirnya sedikit meredup. Ia pulang ke tempat istirahatnya. Beberapa menit kemudian, ia mengangkat teleponnya. Lalu dunia serasa berputar terbalik. Ia mendapati dirinya Blank seketika. Lalu ia menangis sejadi-jadinya. Itulah kali pertama ia kehilangan kendali didepan banyak orang.
Sejak saat itu, ia merasa dirinya terbang entah kemana. “everything was changed!” pikirnya. Ia bukan lagi orang yang dulu. Dunia serasa berhenti dan ia jatuh. Jatuh dan tidak akan bisa berdiri lagi karena luka yang menganga di kedua lututnya terlalu besar. Tapi ternyata ia masih bisa berdiri. Ia berdiri tegap. Tegap di hadapan banyak orang. Ia harus menjadi kekuatan, setidaknya untuk orang-orang terdekatnya yang masih tersisa. Lalu ia memutuskan berdiri tegap dan tidak akan tersungkur lagi.
Ia kembali menata semua yang telah hancur. Menata dengan tertatih-tatih, dengan luka menganga yang besar itu. Ia kembali membuat rencana baru, karena rencana-rencana lamanya telah terkoyak habis. Ia kembali menata emosinya dengan sisa-sisa kekuatannya. Lalu ia tertata.
Benarkah tertata? Dengan rapi? Sepertinya tidak. Ia tersungkur untuk kesekian kalinya setiap ia sedang sendiri. Iya. Ia bisa dengan leluasa tersenyum bahkan tertawa terbahak-bahak bersama dengan orang-orang kesayangannya. Ia bisa melucu dihadapan orang-orang yang ia kenal. Tapi, toh nyatanya setiap malam ia menangis sejadi-jadinya dihadapan tembok, dan TUHAN. Kekuatan itu hilang seketika. Segala yang tertata rasanya selalu roboh setiap malam, dan ia harus mengerahkan tenaganya di keesokan harinya untuk menata kembali semua yang telah roboh dan hancur malam sebelumnya, selalu seperti itu.
Ia bosan. “ rasanya aku ingin tidur saja, lelah. Ingin tidur dan tolong jangan bangunkan aku TUHAN, jangan bangunkan aku, karena aku tidak ingin bangun.” Tapi ia tetap terbangun.
“mungkin aku harus berkonsentrasi menyembuhkan lukaku, bukan menghabiskan waktu menata semua ini, karena nantinya akan kurobohkan lagi, aku harus meyembuhkan luka ini, supaya aku menjadi lebih kuat, dan aku bisa menata lebih baik, sehingga tidak mudah roboh dan hancur”
Kalau saja itu mudah, maka dengan sekejap mata semua akan menjadi baik. Tapi itu tidak mudah. Sangat tidak mudah. Dengan matanya ia melihat keredupan orang-orang terdekatnya yang masih tersisa. Dengan matanya, ia melihat gairah hidup yang mulai tercuil sedikit demi sedikit. Dengan matanya, ia melihat topeng ketika sedang bercermin. Mungkin lukanya bukan mongering, tapi semakin bernanah.
Dulu ia berjanji bahwa tidak ada lagi complain apapun. Tapi ia mengingkari janjinya. Ia mengingkarinya. Karena ia tidak sanggup menahan sakit lukanya. Ia menyalahkan penyebab luka ini. “siapa yang membuatku terjatuh seperti ini???siapa??” ia menuntut. Tapi itu tidak membuatnya menjadi lebih baik. Ia semakin tersungkur, dan…sakit.
“jangan bodoh, bangun saja dan berlarilah” kata orang-orang disekelilingnya. Karena itu ia harus kuat. Setidaknya berperan kuat. Ia tidak boleh lagi menunjukkan luka dan kelemahannya. Tidak di depan orang-orang kesayangannya. Cukup di depan tembok-tembok itu, dan didepan TUHAN.
“aku bisa terbahak-bahak dan menahan sakit dan ketidaksanggupanku dihadapan mereka, tapi tidak dihadapanMu TUHAN, aku tidak bisa bersembunyi dihadapanMu. Tidak bisa. Kalau aku harus menangis seperti orang gila di depanMu, maka izinkanlah. Karena aku tidak punya kekuatan lagi untuk terbahak-bahak, menahan sakit dan ketidaksanggupanku di hadapanMU, tidak. Tolong, izinkanlah, sudah cukup topeng ini untuk mereka, tapi tidak untukMu,..”
Luka itu? Mungkin belum sembuh benar, semoga luka itu lekas sembuh, supaya ia mendapat kekuatannya kembali untuk melepas topengnya, dan menata semua yang telah hancur. Memperlihatkan tawa yang sesungguhya pada dunia. Tawa kemenangan, pada dunia….
“hahahahaha….”
Dia tertawa, tertawa bersama-sama teman-temannya,
Sesekali ia terbahak-bahak bersama gerombolannya,
Ia melucu di depan para sahabatnya, keluarganya, dan kekasihnya.
Tapi siapa sangka ia menangis tersedu-sedu setiap malam,
Mungkin saja ia dianggap orang gila jika ada yang mendengarnya,
Atau mungkin ia memang sudah gila?
Minggu, 14 Februari 2010
SEBUAH CERITA
matanya sedang memandang sebuah benda, benda bergambar kesayangannya, benda sebagai tanda ingatan dan ikatan cinta antara dirinya dan kesayangannya. Mata itu menatap sambil bertanya-tanya dalam hati, 'why me?'... ia menantikan waktu yang tepat untuk bertemu lagi dengan kesayangannya.
"bolehkah saya bertemu dengannya hari ini? seharusnya ini adalah hari bahagianya dan terkasihnya, dan seharusnya saya mengucapkan selamat atas momentnya," tanya dirinya pada Bapanya.
"pilihlah, kau akan bertemu dengan kesayanganmu hari ini, tapi setelahnya, kau tidak akan bisa lagi bertemu dengannya untuk seterusnya, atau, kau tidak akan bertemu dengannya hari ini, tapi di waktu yang tepat yang sudah Ku tentukan, kau akan Ku kumpulkan kembali bersama kesayanganmu, di tempat yang jauh lebih indah daripada Yunani, negeri impianmu, dan dalam batas waktu yang tidak terbatas, manakah yang akan kau pilih?" Jawab Bapa kepada dirinya.
"bukankah itu pilihan yang sulit, Katakan Kau Bapaku, lalu mengapa Kau tega menempatkanku pada posisi tidak enak, dan menghadapkanku pada pilihan yang sama sulitnya seperti menghitung bintang??"
"kalau saja kau mengerti Aku, ini bukanlah pilihan yang sulit,.Siapapun tidak mengetahui apa yang terbaik untuk dirinya sendiri, kau bahkan kesayanganmu tidak mengetahui apa yang terbaik untuk diri kalian masing-masing, tapi Aku, Aku sudah pastikan padamu bahwa Akulah yang tahu yang paling baik untukmu dan untuk kesayanganmu, cobalah mengerti hal itu, dan berhentilah bertanya-tanya, Aku menjanjikan sesuatu yang indah untukmu, dan yang Kuminta adalah kesabaran dan kesetiaanmu, Aku Bapamu, kau ingat?"
"hanya saja ini rasanya terlalu berat dan melelahkan, seharusnya Kau melihat ketidaksanggupanku menghadapi ini,"
"Aku tidak melihat ketidaksanggupanmu, untuk yang satu ini,... tidak untukmu. Aku tidak sembarangan memilih dan membentukmu, Aku membentukmu untuk disebut KUAT oleh orang lain, Aku membentukmu, untuk disebut HEBAT oleh yang lain,..dan kesayanganmu itu, Aku memilihnya, untuk menjadi TANDAKu bagi orang lain,..ingat? yang kuminta adalah kesabaran dan kesetiaanmu,"
"..................."
"yang Ku pilih untuk menjadi TANDAKu adalah yang spesial dihadapanKu, bersabarlah untuk sesuatu yang indah, karena apa yang Ku janjikan, akan selalu Ku tepati. cukupkan dirimu dengan memory kesayanganmu,untuk saat ini, dan jangan meminta lebih, karena tanpa kau minta, akan Aku berikan, hanya saja, tunggu waktu yang tepat itu, yang Aku minta adalah kesabaran dan kesetiaanmu, ingat?"
----end of story----
"bolehkah saya bertemu dengannya hari ini? seharusnya ini adalah hari bahagianya dan terkasihnya, dan seharusnya saya mengucapkan selamat atas momentnya," tanya dirinya pada Bapanya.
"pilihlah, kau akan bertemu dengan kesayanganmu hari ini, tapi setelahnya, kau tidak akan bisa lagi bertemu dengannya untuk seterusnya, atau, kau tidak akan bertemu dengannya hari ini, tapi di waktu yang tepat yang sudah Ku tentukan, kau akan Ku kumpulkan kembali bersama kesayanganmu, di tempat yang jauh lebih indah daripada Yunani, negeri impianmu, dan dalam batas waktu yang tidak terbatas, manakah yang akan kau pilih?" Jawab Bapa kepada dirinya.
"bukankah itu pilihan yang sulit, Katakan Kau Bapaku, lalu mengapa Kau tega menempatkanku pada posisi tidak enak, dan menghadapkanku pada pilihan yang sama sulitnya seperti menghitung bintang??"
"kalau saja kau mengerti Aku, ini bukanlah pilihan yang sulit,.Siapapun tidak mengetahui apa yang terbaik untuk dirinya sendiri, kau bahkan kesayanganmu tidak mengetahui apa yang terbaik untuk diri kalian masing-masing, tapi Aku, Aku sudah pastikan padamu bahwa Akulah yang tahu yang paling baik untukmu dan untuk kesayanganmu, cobalah mengerti hal itu, dan berhentilah bertanya-tanya, Aku menjanjikan sesuatu yang indah untukmu, dan yang Kuminta adalah kesabaran dan kesetiaanmu, Aku Bapamu, kau ingat?"
"hanya saja ini rasanya terlalu berat dan melelahkan, seharusnya Kau melihat ketidaksanggupanku menghadapi ini,"
"Aku tidak melihat ketidaksanggupanmu, untuk yang satu ini,... tidak untukmu. Aku tidak sembarangan memilih dan membentukmu, Aku membentukmu untuk disebut KUAT oleh orang lain, Aku membentukmu, untuk disebut HEBAT oleh yang lain,..dan kesayanganmu itu, Aku memilihnya, untuk menjadi TANDAKu bagi orang lain,..ingat? yang kuminta adalah kesabaran dan kesetiaanmu,"
"..................."
"yang Ku pilih untuk menjadi TANDAKu adalah yang spesial dihadapanKu, bersabarlah untuk sesuatu yang indah, karena apa yang Ku janjikan, akan selalu Ku tepati. cukupkan dirimu dengan memory kesayanganmu,untuk saat ini, dan jangan meminta lebih, karena tanpa kau minta, akan Aku berikan, hanya saja, tunggu waktu yang tepat itu, yang Aku minta adalah kesabaran dan kesetiaanmu, ingat?"
----end of story----
Minggu, 27 Desember 2009
SURAT CINTA UNTUKMU
Yang manis dan pahit itu kini menjadi kenangan..
Berakhir sudah masanya menimbulkan rasa manis dan pahit sebagai pelengkap hidup..
Yang ia timbulkan kini hanyalah serpihan kenangan...
Kenangan yang berharga dan tidak pernah terlupakan sampai habis pula masaku memberi rasa itu pada yang lain...
Menghabiskan waktu berdua, manis rasanya...
Berbagi banyak hal yang bisa dibagi, manis rasanya...
Memperebutkan banyak hal, pahit rasanya...
Melihatnya menangis, pahit rasanya....
Dia mampu memberikan semua rasa...
Lalu dia menghilang...
Menghilang untuk selamanya...
Dia mampu memberikan semua rasa...
Dan rasa kehilangan adalah salah satunya...
Saat waktunya selesai disini...
Seakan dia mengatakan sambil tersenyum, “it’s all done, now your turn”
Lalu dia pergi..
................
Kesayanganku,
Bagaimanapun caranya dan bentuknya kau pergi,
Tidak akan tergantikan siapapun posisimu...
Tidak terlupakan kenanganmu...
Harus merelakanmu pergi...
Untuk dapat bertemu kembali diwaktu yang sudah ditentukan..
“ I love you “ sungguh kalimat terdalam yang dapat ku ungkapkan padamu...
Setidaknya aku berharap kau mendengarnya ditempat indahmu kini...
Kalau-kalau aku seringkali lupa mengatakannya saat kau bersamaku disini, maka setidaknya kau akan sering mendengarnya diatas sana sekarang...
Akan kulanjutkan tugasku hingga tiba giliranku habis masa...
Saat sebelum masa itu habis, akan kupastikan kau dan orang-orang yang kita cintai bersama selama ini, merasa puas dan bangga pada tugas-tugasku...
Aku sayang padamu dan tersenyumlah ceria diatas sana seperti kau tersenyum ceria padaku di masa hidupmu...
I love you...
Berakhir sudah masanya menimbulkan rasa manis dan pahit sebagai pelengkap hidup..
Yang ia timbulkan kini hanyalah serpihan kenangan...
Kenangan yang berharga dan tidak pernah terlupakan sampai habis pula masaku memberi rasa itu pada yang lain...
Menghabiskan waktu berdua, manis rasanya...
Berbagi banyak hal yang bisa dibagi, manis rasanya...
Memperebutkan banyak hal, pahit rasanya...
Melihatnya menangis, pahit rasanya....
Dia mampu memberikan semua rasa...
Lalu dia menghilang...
Menghilang untuk selamanya...
Dia mampu memberikan semua rasa...
Dan rasa kehilangan adalah salah satunya...
Saat waktunya selesai disini...
Seakan dia mengatakan sambil tersenyum, “it’s all done, now your turn”
Lalu dia pergi..
................
Kesayanganku,
Bagaimanapun caranya dan bentuknya kau pergi,
Tidak akan tergantikan siapapun posisimu...
Tidak terlupakan kenanganmu...
Harus merelakanmu pergi...
Untuk dapat bertemu kembali diwaktu yang sudah ditentukan..
“ I love you “ sungguh kalimat terdalam yang dapat ku ungkapkan padamu...
Setidaknya aku berharap kau mendengarnya ditempat indahmu kini...
Kalau-kalau aku seringkali lupa mengatakannya saat kau bersamaku disini, maka setidaknya kau akan sering mendengarnya diatas sana sekarang...
Akan kulanjutkan tugasku hingga tiba giliranku habis masa...
Saat sebelum masa itu habis, akan kupastikan kau dan orang-orang yang kita cintai bersama selama ini, merasa puas dan bangga pada tugas-tugasku...
Aku sayang padamu dan tersenyumlah ceria diatas sana seperti kau tersenyum ceria padaku di masa hidupmu...
I love you...
Rabu, 02 Desember 2009
TOO MUCH INFORMATION.,
Manusia membingungkan,
Hampir semua manusia sepakat bahwa makhluk mulia ciptaan Tuhan memang tidak akan pernah puas.
Ingin A, dapat A, lalu keinginan berbuah menjadi ingin AB, dapat AB, beranak lagi, ingin ABC, seterusnya seperti itu sampai abjad terakhir pun mungkin akan habis dan bisa saja membuat abjad baru karena ketidakpuasannya.
Informasi, kebutuhan dasar yang disadari atau tidak, memang sangat dibutuhkan manusia. Informasi membuka semua hal yang ingin diketahui,
Tapi,
Ternyata informasi juga membuka semua hal yang TIDAK ingin diketahui.
Orang bilang, semakin banyak informasi semakin bagus,
O ya?
Realita menunjukkan hal lain, terkadang, too much information is not always a good things.
Informasi berlebihan bisa membuat spekulasi baru,
Sangka ini, sangka itu,
Akhirnya membuat keadaan menjadi labil dan tidak begitu menyenangkan.
Kata tidak nyaman muncul di benak seakan menjadi identitas baru.
Informasi berlebihan bisa membuat hubungan hancur,
Tuduh ini, tuduh itu,
Akhirnya hanya membuat keadaan menjadi sangat tidak menyenangkan
Kata “Sangat tidak nyaman” muncul di benak dan sangat memungkinkan menjadi identitas baru.
Kalau begitu, bagaimana?
Batasi informasi yang bersangkutan?
Hahaha, bukankah manusia mendapat label “tidak pernah puas”?
Ah, hancurkan sumber informasi?
Terlalu berlebihan,
Kalau begitu, apa?
Mungkin saja jawabannya...
Menjaga hati,..
Ah,
Lagi-lagi,
Bukankah setiap manusia punya jawabannya sendiri.....
Hampir semua manusia sepakat bahwa makhluk mulia ciptaan Tuhan memang tidak akan pernah puas.
Ingin A, dapat A, lalu keinginan berbuah menjadi ingin AB, dapat AB, beranak lagi, ingin ABC, seterusnya seperti itu sampai abjad terakhir pun mungkin akan habis dan bisa saja membuat abjad baru karena ketidakpuasannya.
Informasi, kebutuhan dasar yang disadari atau tidak, memang sangat dibutuhkan manusia. Informasi membuka semua hal yang ingin diketahui,
Tapi,
Ternyata informasi juga membuka semua hal yang TIDAK ingin diketahui.
Orang bilang, semakin banyak informasi semakin bagus,
O ya?
Realita menunjukkan hal lain, terkadang, too much information is not always a good things.
Informasi berlebihan bisa membuat spekulasi baru,
Sangka ini, sangka itu,
Akhirnya membuat keadaan menjadi labil dan tidak begitu menyenangkan.
Kata tidak nyaman muncul di benak seakan menjadi identitas baru.
Informasi berlebihan bisa membuat hubungan hancur,
Tuduh ini, tuduh itu,
Akhirnya hanya membuat keadaan menjadi sangat tidak menyenangkan
Kata “Sangat tidak nyaman” muncul di benak dan sangat memungkinkan menjadi identitas baru.
Kalau begitu, bagaimana?
Batasi informasi yang bersangkutan?
Hahaha, bukankah manusia mendapat label “tidak pernah puas”?
Ah, hancurkan sumber informasi?
Terlalu berlebihan,
Kalau begitu, apa?
Mungkin saja jawabannya...
Menjaga hati,..
Ah,
Lagi-lagi,
Bukankah setiap manusia punya jawabannya sendiri.....
Sabtu, 28 November 2009
SATU MAKNA
Jika manusia diberi kesempatan oleh Tuhan untuk memilih umur, di umur berapakah kebanyakan manusia akan memilih?
Umur 2 tahun kah? Dimana saat-saat itu adalah saat yang menyenangkan karena yang kita tahu hanyalah bermain? Dimana saat-saat itu adalah saat kita masih belum tahu benar apa itu persoalan?
Umur 13 tahun kah? Dimana saat-saat itu adalah saat kita memasuki masa remaja dan mulai merasakan adanya cinta meski belum tahu benar apa arti sebuah cinta?
Umur 20 tahun kah? Dimana saat-saat itu adalah saat kita tahu apa itu persoalan dan permasalahan dan bisa labil dibuatnya karena suatu persoalan?
Umur 30 tahun kah? Dimana saat-saat itu adalah saat kita mendapat “label” dewasa dan mulai berpikir seakan kita tua?
Umur 50 tahun kah? Dimana saat-saat itu adalah saat kita mulai was-was akan pertanda penuaan dan akhir kehidupan? Dimana saat-saat itu adalah saat dimana kita merasa tidak berdaya menghadapi hidup yang terlalu keras ini?
Umur 70 tahun kah? Dimana saat-saat itu adalah saat dimana kita memang tidak berdaya menghadapi persoalan yang dirasa terlalu berat dan tubuh mulai mengkerut?
Umur 80 tahun kah? Dimana saat-saat itu adalah saat dimana kita sudah berpikir tentang kematian dan mulai mencari tanah untuk menguburkan diri sendiri?
Hanya saja Tuhan tidak pernah memberi pilihan seperti itu. Semua manusia secara adil harus melewati arti sebuah proses kehidupan. Semua memiliki peluang yang sama untuk merasakan proses tersebut, yang berbeda hanyalah masa pemberhentiannya.
Untuk yang satu ini memang benar Tuhan lah yang berkuasa penuh. Jika tidak, tentu tidak ada sebutan tua, muda, karena pilihan terbesar akan jatuh pada pilihan pertama, pilihan yang mengkondisikan kita untuk tidak merasakan dan mengerti peliknya sebuah persoalan.
Lalu mengapa Tuhan menciptakan umur dan persoalan berjalan beriringan?
Misterius,
Karena itulah Tuhan menciptakan satu makna diatas umur dan persoalan yang berjalan beriringan,
Satu makna,,.
TERIMAKASIH........
Diatas umur dan persoalan, selalu ada TERIMAKASIH sebagai pelindungnya.
Umur 2 tahun kah? Dimana saat-saat itu adalah saat yang menyenangkan karena yang kita tahu hanyalah bermain? Dimana saat-saat itu adalah saat kita masih belum tahu benar apa itu persoalan?
Umur 13 tahun kah? Dimana saat-saat itu adalah saat kita memasuki masa remaja dan mulai merasakan adanya cinta meski belum tahu benar apa arti sebuah cinta?
Umur 20 tahun kah? Dimana saat-saat itu adalah saat kita tahu apa itu persoalan dan permasalahan dan bisa labil dibuatnya karena suatu persoalan?
Umur 30 tahun kah? Dimana saat-saat itu adalah saat kita mendapat “label” dewasa dan mulai berpikir seakan kita tua?
Umur 50 tahun kah? Dimana saat-saat itu adalah saat kita mulai was-was akan pertanda penuaan dan akhir kehidupan? Dimana saat-saat itu adalah saat dimana kita merasa tidak berdaya menghadapi hidup yang terlalu keras ini?
Umur 70 tahun kah? Dimana saat-saat itu adalah saat dimana kita memang tidak berdaya menghadapi persoalan yang dirasa terlalu berat dan tubuh mulai mengkerut?
Umur 80 tahun kah? Dimana saat-saat itu adalah saat dimana kita sudah berpikir tentang kematian dan mulai mencari tanah untuk menguburkan diri sendiri?
Hanya saja Tuhan tidak pernah memberi pilihan seperti itu. Semua manusia secara adil harus melewati arti sebuah proses kehidupan. Semua memiliki peluang yang sama untuk merasakan proses tersebut, yang berbeda hanyalah masa pemberhentiannya.
Untuk yang satu ini memang benar Tuhan lah yang berkuasa penuh. Jika tidak, tentu tidak ada sebutan tua, muda, karena pilihan terbesar akan jatuh pada pilihan pertama, pilihan yang mengkondisikan kita untuk tidak merasakan dan mengerti peliknya sebuah persoalan.
Lalu mengapa Tuhan menciptakan umur dan persoalan berjalan beriringan?
Misterius,
Karena itulah Tuhan menciptakan satu makna diatas umur dan persoalan yang berjalan beriringan,
Satu makna,,.
TERIMAKASIH........
Diatas umur dan persoalan, selalu ada TERIMAKASIH sebagai pelindungnya.
Jumat, 27 November 2009
M.A.T.I…
Pernahkah kamu berpikir tentang kematian?
Membayangkan kamu terbaring, terbujur kaku, dan tidak bernafas?
Membayangkan kamu sedang dihiasi oleh kerabatmu, untuk terakhir kalinya?
Membayangkan kamu sedang ditangisi oleh kerabatmu, dan kamu diam tidak berkutik?
Membayangkan kamu hanya akan melihat hitam, dan tidak lagi melihat semuanya?
Membayangkan kamu akan dibaringkan disebuah kotak, yang akan segera ditutup agar bau busukmu tidak mengganggu orang lain?
Pernahkah kamu berpikir saat kamu mati, ada orang lain yang justru tertawa terbahak-bahak melihat kamu terbujur kaku?
Membayangkan dia yang tertawa dan lega karena tidak akan ada kamu lagi?
Membayangkan sejumlah orang ber toast ria merayakan kematianmu?
Aku baru saja berpikir tentang “setelah mati” beberapa menit yang lalu,
Karena selama beberapa tahun yang lalu, aku hanya berpikir bagaimana caranya mati, dan tidak pernah terlintas apa yang sedang terjadi saat dan setelah aku mati..
Sungguh ironis,
Bagaimana dengan kamu?
Pernahkah?
Membayangkan kamu terbaring, terbujur kaku, dan tidak bernafas?
Membayangkan kamu sedang dihiasi oleh kerabatmu, untuk terakhir kalinya?
Membayangkan kamu sedang ditangisi oleh kerabatmu, dan kamu diam tidak berkutik?
Membayangkan kamu hanya akan melihat hitam, dan tidak lagi melihat semuanya?
Membayangkan kamu akan dibaringkan disebuah kotak, yang akan segera ditutup agar bau busukmu tidak mengganggu orang lain?
Pernahkah kamu berpikir saat kamu mati, ada orang lain yang justru tertawa terbahak-bahak melihat kamu terbujur kaku?
Membayangkan dia yang tertawa dan lega karena tidak akan ada kamu lagi?
Membayangkan sejumlah orang ber toast ria merayakan kematianmu?
Aku baru saja berpikir tentang “setelah mati” beberapa menit yang lalu,
Karena selama beberapa tahun yang lalu, aku hanya berpikir bagaimana caranya mati, dan tidak pernah terlintas apa yang sedang terjadi saat dan setelah aku mati..
Sungguh ironis,
Bagaimana dengan kamu?
Pernahkah?
LAKI-LAKI, PEREMPUAN, DAN PERASAAN.
Mereka bilang, perempuan adalah makhluk indah yang menggunakan perasaan nya untuk setiap peristiwa yang terjadi dalam kehidupan ini.
Mereka bilang, perempuan adalah makhluk rapuh karena perasaan yang berbicara.
Mereka bilang, perempuan adalah makhluk egois karena perasaan yang bertindak.
Mereka bilang, perempuan adalah bla bla bla dan lain sebagainya.
Perempuan dan perasaan, selalu terkait erat seolah tidak bisa dipisahkan, atau mungkin memang tidak bisa dipisahkan?
Perempuan dan perasaan, menjadi satu identitas seolah tidak ada identitas lain, atau memang tidak ada identitas lain bagi perempuan?
Perempuan dan perasaan, akan berujung pada tangis, entah itu bahagia atau sedih, atau memang tidak ada ujung yang lain selain tangis?
Perempuan dan perasaan, kemanapun perginya selalu berjalan beriringan.
Apa memang hanya perempuan yang tidak bisa lepas dari perasaan?
Kalau begitu, laki-laki tidak punya perasaan kah?
Artinya laki-laki adalah Zombie?
Perasaan, selalu dikaitkan dengan perempuan seolah laki-laki tidak berhak dan tidak ikut serta didalamnya.
Mereka bilang, setiap orang punya perasaan, hanya perempuan lebih banyak dan lebih sering menggunakannya daripada laki-laki.
Kenapa semua orang memusingkan seberapa banyak yang terpakai dan terbuang?
Bukankah intinya apapun itu pasti terpakai tidak peduli kuantitas pemakaiannya?
Artinya, laki-laki dan perempuan adalah sama.
Laki-laki dan perempuan berjalan bersama menggunakan perasaannya, tidak peduli siapa yang menggunakan seberapa banyak dan sering,
Laki-laki dan perempuan selalu pernah berada pada situasi yang indah, rapuh, dan egois karena menggunakan perasaannya.
Kalau begitu, jika ada isak tangis, kerapuhan, atau keegoisan, mengapa mereka selalu bilang:
“dasar perempuan..”..
Hei, kemana laki-laki nya? Bukankah kita sepakat setiap jenis kelamin memiliki perasaan?
Mereka bilang, perempuan adalah makhluk rapuh karena perasaan yang berbicara.
Mereka bilang, perempuan adalah makhluk egois karena perasaan yang bertindak.
Mereka bilang, perempuan adalah bla bla bla dan lain sebagainya.
Perempuan dan perasaan, selalu terkait erat seolah tidak bisa dipisahkan, atau mungkin memang tidak bisa dipisahkan?
Perempuan dan perasaan, menjadi satu identitas seolah tidak ada identitas lain, atau memang tidak ada identitas lain bagi perempuan?
Perempuan dan perasaan, akan berujung pada tangis, entah itu bahagia atau sedih, atau memang tidak ada ujung yang lain selain tangis?
Perempuan dan perasaan, kemanapun perginya selalu berjalan beriringan.
Apa memang hanya perempuan yang tidak bisa lepas dari perasaan?
Kalau begitu, laki-laki tidak punya perasaan kah?
Artinya laki-laki adalah Zombie?
Perasaan, selalu dikaitkan dengan perempuan seolah laki-laki tidak berhak dan tidak ikut serta didalamnya.
Mereka bilang, setiap orang punya perasaan, hanya perempuan lebih banyak dan lebih sering menggunakannya daripada laki-laki.
Kenapa semua orang memusingkan seberapa banyak yang terpakai dan terbuang?
Bukankah intinya apapun itu pasti terpakai tidak peduli kuantitas pemakaiannya?
Artinya, laki-laki dan perempuan adalah sama.
Laki-laki dan perempuan berjalan bersama menggunakan perasaannya, tidak peduli siapa yang menggunakan seberapa banyak dan sering,
Laki-laki dan perempuan selalu pernah berada pada situasi yang indah, rapuh, dan egois karena menggunakan perasaannya.
Kalau begitu, jika ada isak tangis, kerapuhan, atau keegoisan, mengapa mereka selalu bilang:
“dasar perempuan..”..
Hei, kemana laki-laki nya? Bukankah kita sepakat setiap jenis kelamin memiliki perasaan?
Minggu, 27 September 2009
that i would be good (alanis morisette)
that I would be good even if I did nothing
that I would be good even if I got the thumbs down
that I would be good if I got and stayed sick
that I would be good even if I gained ten pounds
that I would be fine even if I went bankrupt
that I would be good if I lost my hair and my youth
that I would be great if I was no longer queen
that I would be grand if I was not all knowing
that I would be loved even when I numb myself
that I would be good even when I am overwhelmed
that I would be loved even when I was fuming
that I would be good even if I was clingy
that I would be good even if I lost sanity
that I would be good
whether with or without you
-alanis morisette-
good meaning, deep meaning,...
mencoba mengerti arti lirik ini,
mencoba berpikir siapa yang akan bilang saya tetaplah oke sekalipun semua orang memberi saya jempol mengarah ke bawah.. (seperti salah satu kalimat lagu itu)
mencoba berharap semua orang tidak melihat kekurangan sesamanya...
tapi bukankah itu sulit..
karena sulit maka muncullah lirik ini..
ya, mungkin saja begitu,..
mungkin juga tidak begitu...
that I would be good even if I got the thumbs down
that I would be good if I got and stayed sick
that I would be good even if I gained ten pounds
that I would be fine even if I went bankrupt
that I would be good if I lost my hair and my youth
that I would be great if I was no longer queen
that I would be grand if I was not all knowing
that I would be loved even when I numb myself
that I would be good even when I am overwhelmed
that I would be loved even when I was fuming
that I would be good even if I was clingy
that I would be good even if I lost sanity
that I would be good
whether with or without you
-alanis morisette-
good meaning, deep meaning,...
mencoba mengerti arti lirik ini,
mencoba berpikir siapa yang akan bilang saya tetaplah oke sekalipun semua orang memberi saya jempol mengarah ke bawah.. (seperti salah satu kalimat lagu itu)
mencoba berharap semua orang tidak melihat kekurangan sesamanya...
tapi bukankah itu sulit..
karena sulit maka muncullah lirik ini..
ya, mungkin saja begitu,..
mungkin juga tidak begitu...
Minggu, 06 September 2009
BIARKAN TANPA JUDUL
Gadis itu merasa tidak nyaman, tidak nyaman dengan orang-orang terdekatnya. Ia mencoba memendam dan berharap tidak ada satupun yang tahu. Ia mencoba tersenyum dengan sumber ketidaknyamanannya. Tapi ternyata hal tersebut adalah hal yang sangat sulit ia lakukan. Ia tetap merasa tidak nyaman. Dengan siapa ia merasa tidak nyaman?
Baiklah, ia harus mengatakan kepada seseorang bahwa ia merasa tidak nyaman. Lalu ia pun memberanikan diri untuk mengatakannya. Tidak, tidak, orang tersebut bukanlah orang yang membuat dirinya tak nyaman. Mari kita sepakati bahwa seseorang itu adalah orang yang saat ini sedang mengisi hatinya yang sempat beku dan nyaris patah. Lalu gadis itu mengatakannya. Semuanya. Adakah yang tersembunyi? Adakah yang belum tersampaikan? Saat itu? Rasanya tidak. “rasanya”? Baiklah, anggaplah tidak ada keragu-raguan itu. Tidak. Tidak ada yang tersembunyi, tidak ada yang tertinggal untuk disampaikan, pada saat itu. Kemudian ia menceritakan rasa tidak nyamannya terhadap orang itu. Lalu? Dengan siapa ia merasa tidak nyaman?
Lalu, lega. Ya, itulah rasanya saat ia mengatakan pada orang yang sedang mengisi hatinya itu. Lega. Lalu ia mencoba tersenyum. Hadapi hari dengan mencoba percaya bahwa segalanya baik-baik saja. Satu hari terlewati, dua hari terlewati, tiga hari terlewati, hari-hari mulai terlewati. Lalu perasaan tidak nyaman itu muncul lagi. Dan gadis itu pun merasa terganggu. Sangat terganggu. Gadis itu merasa bodoh karena merasa tidak nyaman. Ketidaknyamanan itu mengganggu emosinya. Emosi yang selama ini ia tata dengan baik agar tidak menghancurkan dan mengganggu orang lain. Gadis itu mulai kehilangan kendali emosinya. Ia ingin marah, ingin teriak, dan ingin menghancurkan seseorang. Seseorang yang membuat ia tidak nyaman, sumber ketidaknyamanan itu. Dengan siapa ia merasa tidak nyaman?
Gadis itu mulai kehilangan kendali emosinya. Disaat tertentu gadis itu riang gembira, disaat yang lain gadis itu ingin marah, marah yang benar-benar marah. Lalu gadis itu mulai mengumpulkan tenaganya untuk menata kembali emosinya. Emosi itu harus ditata kembali. Emosi itu harus dirapikan, agar tidak mengganggu siapapun, agar tidak mengganggu orang yang sedang mengisi hatinya. Sulitkah? Ternyata sulit, gadis itu butuh ruang khusus untuk menangis sejadi-jadinya dan marah pada tembok, agar ia tidak merugikan siapapun yang bertemu dengan dirinya. Tapi saat gadis itu keluar dari ruangan khusus tersebut, ia harus kembali menggunakan topengnya. Topeng keceriaan. Untuk apa? Untuk membantu dirinya sendiri agar tidak merugikan orang lain. Ya, ia masih bisa memikirkan orang lain, dan karena itu ia bersyukur, karena jika ia mengutamakan ego nya, maka semuanya akan hancur. Biar tembok-tembok ruangan itu saja yang hancur asal jangan orang lain. Dengan siapa ia merasa tidak nyaman?
Gadis itu mulai bertanya-tanya, mengapa begini? Mengapa harus terjadi seperti ini? Gadis ini terusik. Ya, terusik. Dia adalah seorang gadis yang selalu menggunakan logikanya. Ya, logika. Logika itulah yang menolongnya dari segala bentuk perasaan yang memungkinkan ia menjadi seorang yang lemah, atau itulah anggapannya selama ini. Melow, kata orang, adalah sesuatu yang wajar. Tapi tidak untuk gadis ini. Ia mencoba sebisa mungkin untuk tidak membiarkan perasaan melow yang kata orang wajar, datang merusak suasana hatinya. Berhasilkah? Satu saat ia berteriak, “berhasil!”. Tapi disaat lain ia menangis dan meratap, “belum, belum, belum berhasil...”. Kacau. Ya, kacau. Emosi nya kacau balau. Bagaimana mungkin? Gadis itu adalah seorang gadis yang paling pintar mengendalikan emosinya, setidaknya untuk orang-orang terdekatnya. Tapi sekarang kacau. Ada sesuatu yang ingin ia muntahkan dari dalam hatinya. Ia ingin memuntahkan sesuatu yang mengganjal itu pada orang yang telah membuat dirinya merasa tidak nyaman. Ingin dimuntahkan semuanya tanpa sisa, tidak peduli orang itu menderita atau tidak. Baiklah, gadis itu memang sudah kehilangan kendali emosi nya. Tapi pikirnya ia masih punya sedikit kekuatan untuk tidak memenangkan keegoisan hatinya. Ya, ia punya kekuatan itu. Jika kekuatan itu hilang bahkan redup, maka segalanya akan hancur. Bahkan gadis itu pun tidak berani membayangkannya. Dengan siapa ia merasa tidak nyaman?
Dengan siapa? Bukan, bukan dengan orang yang kini sedang mengisi hatinya yang sempat beku itu. Lalu dengan siapa? Bagaimana gadis itu menjawab? Kalau ia menjawab pertanyaan ini, ia akan merasa bodoh sekalipun orang-orang mengatakan itu wajar. Dengan siapa? Gadis itu memilih untuk tidak menjawab. Ia pendam sendiri, biar sebagian orang saja yang tahu dengan siapa ia merasa tidak nyaman. Hanya saja, kepada siapa ia harus berteriak dan menangis? Pada orang yang sedang mengisi hatinya? Ia pikir tidak. Tidak, tidak, lebih baik tidak. Gadis itu berpikir keras untuk masalahnya ini. Akhirnya ia memutuskan untuk berhenti teriak, dan berhenti menangis. Berhenti memikirkan masalah itu. Karena itu tidak penting.
Tapi, masalah datang tanpa permisi. Keputusan mutlak itu tergoyahkan. Kacau. Lagi-lagi gadis itu merasa kacau. Akhirnya gadis itu memutuskan untuk sendiri. Ya, sendiri dulu, diruangan khususnya, diam disitu, menatap tembok dan berbicara pada dirinya sendiri dan pada Tuhan.
“tidak ada yang bisa kulakukan untuk emosiku saat-saat ini. Yang harus aku lakukan adalah menangis sejadi-jadinya, lalu mengusap air mata itu dengan tissue, membilas wajah, mengambil es batu untuk mengompres mataku agar tidak bengkak, tidur sejenak, dan kemudian aku akan keluar untuk menggunakan topengku. Munafikkah aku? Terserahlah, tapi topengku bukan untuk membuat diriku menjadi gadis munafik, topengku adalah untuk menyelamatkan suasana hati orang lain dan suasana hatiku sendiri. Bocorkah topeng itu? Kuharap tidak. Tapi, itu bukanlah topeng yang sempurna. Kalau pun bocor, maka biarlah. Tetaplah diam bagi siapapun yang mengetahui kebocoran topeng itu. Karena aku tidak punya kekuatan lagi untuk menembel topeng itu dan membuatnya sangat sempurna dihadapan kalian. Kekuatanku saat ini hanyalah untuk mengurung egoisme yang sedang memberontak keluar untuk mengganggu orang lain. Jadi, biarkan aku menggunakan sisa kekuatanku untuk mengurungnya. Biarkan...”
Gadis itu bicara dengan dirinya sendiri, dan dengan Tuhan. Tuhan? Masih adakah Tuhan? Gadis itu dengan mantap menjawab pertanyaan yang satu ini, “ masih ada! Kalau Dia tidak ada, maka sekarang aku bukanlah manusia. Kalau Dia tidak ada, aku hanyalah sebuah kehancuran bagi diriku sendiri dan orang lain. Jadi, Dia masih ada. Dan aku bersyukur karenaNya”.
Sudah selesaikah ceritanya? Tentu saja belum. Gadis itu tidak mampu lagi untuk bercerita. Ia tidak berani janji apakah kelanjutannya akan happy ending atau sad ending. Lalu bagaimana kelanjutannya? Jangan tanya bagaimana pada gadis itu, karena gadis itu sendiri tidak tahu bagaimana kelanjutannya. Jika kau tanya bagaimana keadaan gadis itu sekarang? Gadis itu masih kacau, tapi ia baik-baik saja. Aneh bukan? Ada kebaikan ditengah kekacauan. Setidaknya gadis itu masih berharap ia baik-baik saja dan ia meng-iman-i nya. Iman itu pasti akan menyelamatkan hidupnya. Pasti. Ia baik-baik saja........
Baiklah, ia harus mengatakan kepada seseorang bahwa ia merasa tidak nyaman. Lalu ia pun memberanikan diri untuk mengatakannya. Tidak, tidak, orang tersebut bukanlah orang yang membuat dirinya tak nyaman. Mari kita sepakati bahwa seseorang itu adalah orang yang saat ini sedang mengisi hatinya yang sempat beku dan nyaris patah. Lalu gadis itu mengatakannya. Semuanya. Adakah yang tersembunyi? Adakah yang belum tersampaikan? Saat itu? Rasanya tidak. “rasanya”? Baiklah, anggaplah tidak ada keragu-raguan itu. Tidak. Tidak ada yang tersembunyi, tidak ada yang tertinggal untuk disampaikan, pada saat itu. Kemudian ia menceritakan rasa tidak nyamannya terhadap orang itu. Lalu? Dengan siapa ia merasa tidak nyaman?
Lalu, lega. Ya, itulah rasanya saat ia mengatakan pada orang yang sedang mengisi hatinya itu. Lega. Lalu ia mencoba tersenyum. Hadapi hari dengan mencoba percaya bahwa segalanya baik-baik saja. Satu hari terlewati, dua hari terlewati, tiga hari terlewati, hari-hari mulai terlewati. Lalu perasaan tidak nyaman itu muncul lagi. Dan gadis itu pun merasa terganggu. Sangat terganggu. Gadis itu merasa bodoh karena merasa tidak nyaman. Ketidaknyamanan itu mengganggu emosinya. Emosi yang selama ini ia tata dengan baik agar tidak menghancurkan dan mengganggu orang lain. Gadis itu mulai kehilangan kendali emosinya. Ia ingin marah, ingin teriak, dan ingin menghancurkan seseorang. Seseorang yang membuat ia tidak nyaman, sumber ketidaknyamanan itu. Dengan siapa ia merasa tidak nyaman?
Gadis itu mulai kehilangan kendali emosinya. Disaat tertentu gadis itu riang gembira, disaat yang lain gadis itu ingin marah, marah yang benar-benar marah. Lalu gadis itu mulai mengumpulkan tenaganya untuk menata kembali emosinya. Emosi itu harus ditata kembali. Emosi itu harus dirapikan, agar tidak mengganggu siapapun, agar tidak mengganggu orang yang sedang mengisi hatinya. Sulitkah? Ternyata sulit, gadis itu butuh ruang khusus untuk menangis sejadi-jadinya dan marah pada tembok, agar ia tidak merugikan siapapun yang bertemu dengan dirinya. Tapi saat gadis itu keluar dari ruangan khusus tersebut, ia harus kembali menggunakan topengnya. Topeng keceriaan. Untuk apa? Untuk membantu dirinya sendiri agar tidak merugikan orang lain. Ya, ia masih bisa memikirkan orang lain, dan karena itu ia bersyukur, karena jika ia mengutamakan ego nya, maka semuanya akan hancur. Biar tembok-tembok ruangan itu saja yang hancur asal jangan orang lain. Dengan siapa ia merasa tidak nyaman?
Gadis itu mulai bertanya-tanya, mengapa begini? Mengapa harus terjadi seperti ini? Gadis ini terusik. Ya, terusik. Dia adalah seorang gadis yang selalu menggunakan logikanya. Ya, logika. Logika itulah yang menolongnya dari segala bentuk perasaan yang memungkinkan ia menjadi seorang yang lemah, atau itulah anggapannya selama ini. Melow, kata orang, adalah sesuatu yang wajar. Tapi tidak untuk gadis ini. Ia mencoba sebisa mungkin untuk tidak membiarkan perasaan melow yang kata orang wajar, datang merusak suasana hatinya. Berhasilkah? Satu saat ia berteriak, “berhasil!”. Tapi disaat lain ia menangis dan meratap, “belum, belum, belum berhasil...”. Kacau. Ya, kacau. Emosi nya kacau balau. Bagaimana mungkin? Gadis itu adalah seorang gadis yang paling pintar mengendalikan emosinya, setidaknya untuk orang-orang terdekatnya. Tapi sekarang kacau. Ada sesuatu yang ingin ia muntahkan dari dalam hatinya. Ia ingin memuntahkan sesuatu yang mengganjal itu pada orang yang telah membuat dirinya merasa tidak nyaman. Ingin dimuntahkan semuanya tanpa sisa, tidak peduli orang itu menderita atau tidak. Baiklah, gadis itu memang sudah kehilangan kendali emosi nya. Tapi pikirnya ia masih punya sedikit kekuatan untuk tidak memenangkan keegoisan hatinya. Ya, ia punya kekuatan itu. Jika kekuatan itu hilang bahkan redup, maka segalanya akan hancur. Bahkan gadis itu pun tidak berani membayangkannya. Dengan siapa ia merasa tidak nyaman?
Dengan siapa? Bukan, bukan dengan orang yang kini sedang mengisi hatinya yang sempat beku itu. Lalu dengan siapa? Bagaimana gadis itu menjawab? Kalau ia menjawab pertanyaan ini, ia akan merasa bodoh sekalipun orang-orang mengatakan itu wajar. Dengan siapa? Gadis itu memilih untuk tidak menjawab. Ia pendam sendiri, biar sebagian orang saja yang tahu dengan siapa ia merasa tidak nyaman. Hanya saja, kepada siapa ia harus berteriak dan menangis? Pada orang yang sedang mengisi hatinya? Ia pikir tidak. Tidak, tidak, lebih baik tidak. Gadis itu berpikir keras untuk masalahnya ini. Akhirnya ia memutuskan untuk berhenti teriak, dan berhenti menangis. Berhenti memikirkan masalah itu. Karena itu tidak penting.
Tapi, masalah datang tanpa permisi. Keputusan mutlak itu tergoyahkan. Kacau. Lagi-lagi gadis itu merasa kacau. Akhirnya gadis itu memutuskan untuk sendiri. Ya, sendiri dulu, diruangan khususnya, diam disitu, menatap tembok dan berbicara pada dirinya sendiri dan pada Tuhan.
“tidak ada yang bisa kulakukan untuk emosiku saat-saat ini. Yang harus aku lakukan adalah menangis sejadi-jadinya, lalu mengusap air mata itu dengan tissue, membilas wajah, mengambil es batu untuk mengompres mataku agar tidak bengkak, tidur sejenak, dan kemudian aku akan keluar untuk menggunakan topengku. Munafikkah aku? Terserahlah, tapi topengku bukan untuk membuat diriku menjadi gadis munafik, topengku adalah untuk menyelamatkan suasana hati orang lain dan suasana hatiku sendiri. Bocorkah topeng itu? Kuharap tidak. Tapi, itu bukanlah topeng yang sempurna. Kalau pun bocor, maka biarlah. Tetaplah diam bagi siapapun yang mengetahui kebocoran topeng itu. Karena aku tidak punya kekuatan lagi untuk menembel topeng itu dan membuatnya sangat sempurna dihadapan kalian. Kekuatanku saat ini hanyalah untuk mengurung egoisme yang sedang memberontak keluar untuk mengganggu orang lain. Jadi, biarkan aku menggunakan sisa kekuatanku untuk mengurungnya. Biarkan...”
Gadis itu bicara dengan dirinya sendiri, dan dengan Tuhan. Tuhan? Masih adakah Tuhan? Gadis itu dengan mantap menjawab pertanyaan yang satu ini, “ masih ada! Kalau Dia tidak ada, maka sekarang aku bukanlah manusia. Kalau Dia tidak ada, aku hanyalah sebuah kehancuran bagi diriku sendiri dan orang lain. Jadi, Dia masih ada. Dan aku bersyukur karenaNya”.
Sudah selesaikah ceritanya? Tentu saja belum. Gadis itu tidak mampu lagi untuk bercerita. Ia tidak berani janji apakah kelanjutannya akan happy ending atau sad ending. Lalu bagaimana kelanjutannya? Jangan tanya bagaimana pada gadis itu, karena gadis itu sendiri tidak tahu bagaimana kelanjutannya. Jika kau tanya bagaimana keadaan gadis itu sekarang? Gadis itu masih kacau, tapi ia baik-baik saja. Aneh bukan? Ada kebaikan ditengah kekacauan. Setidaknya gadis itu masih berharap ia baik-baik saja dan ia meng-iman-i nya. Iman itu pasti akan menyelamatkan hidupnya. Pasti. Ia baik-baik saja........
Langganan:
Postingan (Atom)