"Kebenaran adalah berani, dan kebaikan tidak pernah takut." -William Shakespeare_Measure for measure-

Kamis, 21 April 2011

ZONA NYAMAN

“Aku tidak keluar dari zona nyaman, aku dikeluarkan dari zona nyaman.” 

Diwaktu tertentu kau hanya tertawa dan tersenyum. Seperti dimanjakan, wajahmu bersinar terang dan tidak pernah menyentuh kesedihan. Berputar-putar di zona nyaman, tapi tidak pusing. Semua yang kau inginkan ada didepan matamu. Mungkin, kau tidak perlu mengucapkannya. Hanya memikirkannya didalam kepalamu, lalu TAA-RAA! Semua tersedia untukmu. 

Orang bodoh mana yang ingin keluar dari zona nyaman seperti itu? Seperti surga dibumi, eh? 

Lalu diwaktu yang lain, kau menangis sampai bengkak. Meratap seperti narapidana yang akan dihukum gantung. Sinarnya tidak lagi terang, bahkan meredup. Sejauh matamu memandang, hanya ada kesedihan dan ratap. Kini berputar tidak lagi terasa menyenangkan, pusingnya membuat kepalamu seolah-olah sedang terbelah menjadi dua. Kau berteriak sekeras mungkin, tapi semua keinginanmu tidak lagi tersedia didepan matamu. Jawaban dari setiap teriakanmu hanyalah gema suaramu dan akhirnya sunyi. Kemudian kau tersungkur. Yang lebih menyedihkan, kau merasa sendiri. Lampu sorotnya hanya mengarah padamu, tidak ada yang lain. Unfortunately, kau menonton kesedihan dirimu sendiri. 

“Aku tidak keluar dari zona nyaman. Aku dikeluarkan dari zona nyaman. Kesalahan besar apa yang kulakukan sampai aku dikeluarkan dari zona nyaman itu? Aku tidak menyikut yang lain. Kami tertawa bersama-sama. Aku tidak berbuat curang. Semua orang di zona nyaman itu mendapatkan apa yang mereka inginkan. Tidak hanya aku. Apa yang membuatku dikeluarkan dari zona nyaman?” 

Masih meratap. Kini punggungmu tidak lagi tegak, wajahmu tidak lagi menengadah keatas. Matamu tidak lagi membelalak lebar. Seperti berkubang di kolam airmata? Ya, mungkin seperti itu. 

Kau bertanya-tanya. Berusaha mencari jawabannya. Lagi-lagi tidak ada yang mampu menjawabnya. Atau, jawaban itu memang sengaja disembunyikan darimu? Sayang sekali hanya gema suaramu yang menjawab pertanyaanmu. Menjawab? Tidak. Pertanyaan itu hanya dilemparkan kembali padamu. 

Masih tersungkur. Masih meratap. Dan masih berusaha menemukan jawabannya. 

Uh. Hentikan. Kau hanya berjalan ditempat. Yang harus kau lakukan adalah menegakkan kembali punggungmu. Menyimpan pertanyaanmu untuk menghemat energi. Mulai melangkah kedepan dan tinggalkan ratap tangis itu dibelakang. Kalau tidak salah, ada cahaya di ujung sana. Ya kan? Selalu ada cahaya. Waktunya belum habis untuk tidak ada lagi cahaya. Seseorang harus membuktikan ada cahaya diujung sana. Berhubung kau menganggap sedang sendiri di zona tidak nyaman ini, maka dirimu sendirilah yang harus membuktikannya. 

Setelah berjalan cukup jauh, setelah punggung kembali ditegakkan, setelah pengharapan kembali dikumpulkan, setelah menjadikan cahaya diujung sana sebagai tujuan, apakah kau mendapatkan kembali zona nyamanmu? Apa betul cahaya diujung sana menyimpan berbagai jawaban yang sedang kau tunggu? 

Tidak dan Iya. Tidak untuk zona nyaman, Ya untuk jawaban. 

Jawaban yang kau dapat cukup sederhana. 

“tunggu dan lihat. Yang terbaiklah yang terjadi. Percaya dan bertekunlah. Yang terbaiklah yang terjadi. Beriman dan lakukan yang benar. Yang terbaiklah yang terjadi.” 

Maka yang terjadi inilah yang terbaik. Merasakan zona nyaman, dikeluarkan dari zona nyaman, melewati kolam airmata, hingga kembali menegakkan punggung untuk berjalan kedepan, kemudian menemukan jawaban yang mungkin tidak seperti yang diharapkan. Tapi inilah yang terbaik. Kau tahu? Karena kau sedang belajar untuk menjadi si kuat dan tangguh. Agar nanti ketika perang terjadi, kau, si kuat dan tangguh, boleh menjadi pemimpin yang memegang tongkat untuk memenangkan peperangan.
 
Tidak percaya? 

“tunggu dan lihat. Yang terbaiklah yang terjadi. Percaya dan bertekunlah. Yang terbaiklah yang terjadi. Beriman dan lakukan yang benar. Yang terbaiklah yang terjadi.” 

Selasa, 19 April 2011

A.N.G.E.R.

-It's about choice when you face and manage your anger- (Fe'S) 

Satu kali mengusik: It's a little bit okay. 
Dua kali mengusik: I'm not comfort and a little bit "hot" here. 
Tiga kali mengusik: Enough. Don't try me.
Empat kali mengusik: Can you hear me? Again, don't try.
Lima kali mengusik: SLAP! Oops. I'm sorry. you play me, first.
(Tak terhitung) mengusik: Okay. I know you are so stupid. I'm quite. But I'll ensure everyone knows that you are stupid one. I'll ensure you crying like no hope!

*** 

Satu kali mengusik: It's a little bit okay. 
Dua kali mengusik: I'm not comfort and a little bit "hot" here. 
Tiga kali mengusik: Okay, it's not really good, actually. Let's stop. 
Empat kali mengusik: Can you hear me? 
Lima kali mengusik: Fiuh!Take a deep breath, dear my self. 
(Tak terhitung) mengusik: Okay. I'm quite. You know, it's not my bussiness to tell you that you are stupid one (or the smartest one). They (at the outside there) will do that. Bye. Have a good day. *smiling* 

*** 

Well,well,well,I think (and I hope) you find, see, and choose a better one from that difference above.

Have a good day, people! :)





Selasa, 12 April 2011

"LEFTY". So?

I'm proud to be lefty.-(Fe'S)- 


*tidak ditujukan bagi semua orang. Hanya ditujukan bagi orang yang menganggap kidal itu aib dan aneh.* 


Siapa bilang kidal adalah aib?
Siapa bilang kidal berarti tidak bisa bersikap santun?
Siapa bilang kidal itu menyedihkan?

Lihat saja si Obama! Presiden Amerika Serikat yang sedang terkenal dengan senyumnya itu menggunakan tangan kiri untuk menandatangani setiap surat-surat penting yang berhubungan dengan aset negara. 

Napoleon Bonaparte, Bill Clinton, Prince William from England, Bill Gates, Oprah Winfrey, Tom Cruise, Julia Roberts, Angelina Jolie, Issac Newton, Aristoteles, Albert Einstein, Michelangelo, Julius Caesar, many else!

Sedikit mengganggu ketika orang lain mulai melirik,mengerutkan dahi, mata membelalak, kemudian memandangimu cukup lama, sampai kau merasa tidak nyaman untuk melakukan apapun dengan tangan kirimu.

CUKUP MENYEBALKAN ketika kau harus menjawab pertanyaan semacam (maaf) "kamu cebok dengan tangan apa?"

Menangis untuk Tersenyum.

-Terkadang, untuk dapat tersenyum dengan tulus dan menjadi lebih bijak, aku (dan mungkin kamu juga) harus menangis dengan tulus dan (juga) bijak terlebih dahulu. (Fe'S)- 

Aku ingat.
Di satu malam, aku berteriak begitu keras. Dalam hati.
Tentu saja di embel-embeli dengan tangisan.
Mirip seperti drama-drama korea yang sedang hits saat ini.

Aku juga ingat.
Di suatu pagi, aku menghela nafas.
Kali ini diembel-embeli dengan wajah berkerut-kerut, mata bengkak dan merah, dan pipi yang bersemu. Bersemu kusam.

Kemudian, aku menerima lagu ini.

Jumat, 08 April 2011

SILENCE

"Sampai kapan?" 
"Sampai aku bosan. Atau sampai pihak lawan yang berhenti."
"Egois." 
"Sedikit."
"Sedikit?" 
"Ya.kalau banyak,aku sudah menghancurkan orang-orang yang mencoba mengusikku lebih dulu.benar-benar hancur sampai kedua pihak menyesal telah menimbulkan dan menanggapi perang."
"Bagaimana caranya mematikan api yang telah tersulut?tidak peduli siapa yang menyulut lebih dulu."
"Yakin ingin mendengar jawabannya?"

Selasa, 22 Maret 2011

BERUNTUNGNYA SEORANG PEREMPUAN

Beruntungnya perempuan disebut cengeng
“karena kami tidak perlu "memotong umur" akibat menimbun beban hidup berlebih dan merasa gengsi untuk mengeluarkannya".

Beruntungnya perempuan dikatakan 'lebih menggunakan perasaan daripada logika'
“karena dengan begitu kami bisa membuktikan bahwa perasaan tidak kalah dengan logika". 

Beruntungnya perempuan dikatakan lemah
“karena dengan begitu kami punya banyak alasan untuk dilindungi, dan terutama, dibalik kelemahan ada kelembutan dan motivasi untuk menjadi kuat".

Beruntungnya perempuan dikodratkan untuk melahirkan

Kamis, 17 Maret 2011

BINTANG ITU INDAH, CARA TUHAN BERPESTA.

“Bintang itu indah.....” 

          Mereka membicarakannya. Mereka membicarakan bintang. Sayang waktunya tidak tepat. Siang itu mereka sedang duduk disebuah taman. Ah, sayangnya mereka juga sedang tidak di tempat yang tepat. Kalau saja taman itu sepi sunyi, namun tampaknya taman itu penuh sesak oleh berbagai jenis gaya hidup orang-orang di kota itu. Mereka berdua duduk di salah satu kursi taman dan mereka membicarakan bintang sementara yang sedang berkuasa siang itu adalah matahari. 

“Tidak perlu menunggu malam untuk membicarakan bintang, iya kan?”

“Ya, kau benar. Tidak perlu menunggu malam untuk membicarakan bintang. Tapi...apakah benar rasanya jika kita membicarakan bintang yang kamu sebut indah itu, sementara si matahari sedang menunjukkan kegarangannya dihadapan kita?”

“Kupikir sah-sah saja. Tidak mungkin matahari cemburu. Toh, matahari juga bagian dari bintang. Hanya badannya saja lebih besar dan energinya lebih banyak dibanding bintang yang lain.” 

“Hahaha, jangan berpikir begitu. Matahari bisa saja cemburu karena kita membicarakan bintang malam. Bukankah tidak ada yang mustahil didunia ini, bahkan untuk penghuni galaksi seperti matahari dan bintang.”

“Hei, kamu terdengar seperti orang yunani saja...”

“Hmm..baiklah, baiklah, anggap saja matahari tidak cemburu siang ini. Anggap saja matahari sedang gembira sehingga ia meluapkan energi panasnya sedikit bersemangat siang ini. Lalu ada apa dengan bintang yang kau sebut indah itu?”

“Oh ya, bintang itu indah. Kamu lihat yang kutunjuk itu?” 

“Ah, kau sedang mengigau. Mana ada bintang malam di siang yang terik ini??”

Kamis, 10 Maret 2011

CEMBURU


“saya tidak akan bersikap bodoh seperti cemburu pada pasangan saya kelak. Saya akan mempercayainya sepenuh hati karena pasangan yang akan saya pilih pun akan melakukan hal yang sama kepada saya.”

Itu pasti dulu. Jauh sebelum kau memiliki pasangan dan belum mengerti bagaimana rasanya menyayangi seseorang dengan tulus. Pikiran itu menjadi prinsip dan “bekal” yang kau bawa, kalau-kalau kau  memiliki pasangan, kelak.

Ya, seperti berpikir “kalau saya terjebak dalam pilihan sahabat atau pacar, saya akan tetap memilih sahabat daripada pacar bagaimanapun kondisinya.

 Lalu ketika mengalaminya, ketika berada pada kondisi tersebut, semua pernyataan mulia itu menguap seperti tidak pernah terlontar sebelumnya. 

Ya, menguap begitu saja.

Cemburu datang tanpa sopan santun yang diajarkan oleh orangtua kepada anaknya.

ketuk pintu jika akan masuk keruangan yang bukan ruanganmu.

Coba saja kau suruh si “cemburu” mengetuk pintu hatimu terlebih dulu sebelum dia memasuki hatimu. kalau

Minggu, 27 Februari 2011

"PENJINAK BOM"

“ah, kamu pintar menciptakan genderang perang.” 
“tidak, kamu pintar menabuh genderang perang.” 
“salah, kamu sanggup membalas tabuhan genderang perang.” 
“ah yang benar saja. Kamu bisa membalikkan genderang perang dan membuatnya lebih ‘meriah’.” 

Pilih saja salah satu sesukamu. Aku pintar dan sanggup melakukannya ketika emosiku sedang meluap-luap, ketika aku lupa pada keberadaan Tuhan. Aku bahkan sanggup menciptakan 2 atau 3 genderang perang sekaligus beserta tabuhannya. Aku juga mampu menciptakan “bunyi-bunyian” indah untuk mempertajam suasana. Hmmm.. memeriahkan suasana. 

Tapi aku bersyukur tidak pernah melupakan Tuhan sepenuhnya. Keahlian busuk ini begitu membanggakan ketika aku sedang marah. Tapi semuanya tidak lagi membanggakan dan menyenangkan ketika aku sadar. Ah, bukankah manusia sering seperti itu? 

Aku akan sombong seperti lucifer menyombongkan ketampanannya. Kemudian aku akan dilempar seperti Tuhan melempar lucifer keluar dari garis nyaman. Baiklah, tunggu sebentar. Aku tidak ingin yang satu ini. 

Sepertinya Tuhan mendengarkanku. Aku dikirimi pendamping gagah yang dengan ajaib mampu menurunkan

SARKASTIK

Pernah mengikuti pola “berperang melalui tulisan”? (Oh, aku akan terlalu "vulgar" dan "Terbuka" bagi beberapa orang tertentu pada tulisan kali ini)

Semacam saling memberikan sindiran tajam, saling melempar pendapat mulia, saling mendominasi, dan pada akhirnya saling membuka “aib” masing-masing dan diketahui orang banyak. Lalu, standing applause dari mereka yang menonton. Pernah? 

Oh baiklah. Mungkin yang terakhir terlalu berlebihan. Hanya penonton bodoh yang memberikan standing applause pada hal semacam ini. 

Aku sedang mengikuti pola ini. Tampak bodoh? Ya, sebenarnya ini memang tampak bodoh. Aku terpancing dengan orang bodoh yang dengan tidak sengaja, menurutnya, telah mengasah ke-sarkastik-an ku. Aku memang bodoh mengikuti pola ini. Tapi sebenarnya ini menyenangkan juga. Kau tahu? Semacam kepuasan tersendiri karena membuat orang bodoh tertentu merasa diatas angin karena berhasil “menyenggol” lukaku. 

Sarkastik. 

Mereka menyebutku begitu. 
Aku terlalu tajam untuk sebuah sindiran. Aku terlalu genius
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...